Jakarta (tutur.co.id) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi tajam pada perdagangan kemarin, Rabu (21/1), seiring kombinasi sentimen global dan domestik yang menekan pergerakan pasar. IHSG melemah 1,36% ke level 9.010 dan masih didominasi aksi jual investor.
Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai pelemahan IHSG tidak terjadi dalam ruang hampa. Dari eksternal, pasar global diguncang meningkatnya ketegangan geopolitik Amerika Serikat yang kembali memicu kekhawatiran investor.
“Kita ketahui bersama bahwa kemarin IHS bergerak terkoreksi yang diakibatkan adanya beberapa sentimen, antara lain kondisi geopolitik AS yang berencana mengambil alih Greenland dan mengancam menerapkan tarif impor kepada negara-negara yang melarang,” ujar Herditya kepada tutur.co.id.
Isu tersebut memicu pergeseran aset investor global menuju instrumen aman (safe haven). Harga emas pun bergerak menguat dan menjadi salah satu penopang kinerja emiten berbasis emas di pasar saham domestik.
“Hal tersebut meningkatkan kekhawatiran investor sehingga harga komoditas emas sebagai investasi safe haven bergerak menguat dan berdampak positif terhadap emiten gold related di IHSG,” lanjutnya.
Namun, sentimen positif dari sektor emas belum cukup menahan tekanan dari dalam negeri. IHSG justru terbebani oleh pelemahan sektor industri, khususnya saham berkapitalisasi besar.
“Dari domestik, IHSG terbebani oleh sektor industrial yang bergerak terkoreksi, setelah izin tambang anak usaha UNTR dicabut, yang mengakibatkan UNTR bergerak auto reject bawah dan juga berdampak ke ASII,” jelas Herditya.
Tekanan pada saham UNTR dan ASII memberikan kontribusi signifikan terhadap koreksi indeks, mengingat bobot keduanya dalam IHSG.
Meski demikian, sentimen global mulai membaik menjelang penutupan perdagangan. Bursa Wall Street ditutup menguat seiring meredanya ketegangan geopolitik.
“Menutup perdagangan, bursa AS bergerak menguat seiring dengan rencana kesepakatan atas Greenland dan juga risiko akan pengenaan tarif impor Eropa sudah berkurang,” kata Herditya.
Perkembangan tersebut dinilai berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik pada perdagangan hari ini.
“Kami perkirakan akan berdampak positif pada perdagangan hari ini. Seperti yang kami sampaikan pada report teknikal pagi ini, IHSG berpeluang rebound terlebih dahulu,” tambahnya.
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menilai IHSG saat ini berada pada fase yang masih rawan volatilitas. Dalam MNCS Daily Scope Wave edisi 22 Januari 2026, IHSG diperkirakan berada di awal wave [iv] dari wave 5.
“Posisi IHSG saat ini sedang berada di awal wave [iv] dari wave 5, sehingga IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 8.710–8.887,” tulis MNC Sekuritas dalam risetnya.
Adapun area penguatan jangka pendek diperkirakan berada di rentang 9.026–9.054, dengan level support di 8.956 dan 8.905, serta resistance di 9.120 dan 9.192.
Terkait pergerakan saham-saham konglomerasi, Herditya menilai pasar mulai bersifat selektif dan berbasis ekspektasi indeks global.
“Untuk emiten-emiten konglo mungkin saya tidak dapat berkomentar lebih lanjut, namun dapat kita cermati bahwa investor sudah dapat melihat dan memperkirakan emiten-emiten yang akan masuk ke dalam konstituen MSCI, sehingga hal tersebut mengakibatkan adanya akumulasi dan kenaikan harga pada emiten-emiten yang bersangkutan,” ujarnya.
Untuk strategi perdagangan jangka pendek, MNC Sekuritas merekomendasikan saham-saham berikut: ENRG, IMPC, MBMA, dan BMRI, dengan tetap mencermati pergerakan IHSG di tengah dinamika sentimen global dan domestik yang masih cepat berubah.

