Jakarta (tutur.co.id)- PT Pertamina (Persero) terus memperkuat pengembangan hidrogen nasional sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan energi sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih. Berbagai proyek tengah dikembangkan di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Papua, untuk membangun ekosistem hidrogen yang terintegrasi.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima redaksi Tutur.co.id, salah satu proyek strategis yang dikembangkan adalah pembangunan hydrogen hub di Sei Mangkei dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 4.000 kilogram hidrogen per hari dan diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem hidrogen nasional.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan hidrogen akan menjadi salah satu sumber energi strategis yang melengkapi bauran energi nasional pada masa depan.
Menurutnya, pengembangan hidrogen membutuhkan kolaborasi lintas sektor agar tercipta ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
“Ekosistem hidrogen ini akan menjadi capaian baru transformasi energi di Indonesia, sebagaimana keberhasilan biodiesel B50 yang telah diresmikan pemerintah,” ujar Oki saat menjadi pembicara dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Ia menjelaskan, Pertamina tidak hanya fokus pada produksi hidrogen, tetapi juga membangun fondasi ekosistem melalui empat aspek utama, yakni penguatan regulasi, pengembangan teknologi, dukungan pembiayaan, serta penyediaan infrastruktur yang terintegrasi.
“Khusus untuk infrastruktur, kami berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset-aset strategis nasional sehingga pengembangan hidrogen dapat dilakukan secara lebih efisien, kompetitif, dan ekonomis,” katanya.
Selain proyek di Sumatera Utara, Pertamina juga mengembangkan berbagai inisiatif hidrogen di sejumlah daerah. Di Plaju, Sumatera Selatan, perusahaan menjalankan proyek percontohan produksi hidrogen berbasis energi surya dengan kapasitas 20 kilogram per hari. Sementara itu, fasilitas produksi green hydrogen berbasis panas bumi di Lampung ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada November mendatang dengan kapasitas 100 kilogram per hari.
Di Pulau Jawa, Pertamina bersama sejumlah mitra mengembangkan ekosistem hydrogen mobility di Jakarta. Adapun di Jawa Barat, perusahaan memperoleh dukungan hibah dari Pemerintah Korea untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah dan limbah cair menjadi biogas yang kemudian diproses menjadi hidrogen.
Pengembangan hidrogen juga dilakukan di kawasan timur Indonesia. Di Sulawesi, Pertamina mengembangkan potensi hidrogen alami, sedangkan di Maluku dan Papua perusahaan mengembangkan proyek blue ammonia bersama mitra strategis untuk mendukung kebutuhan industri sekaligus membuka peluang pasar ekspor.
Melalui berbagai proyek tersebut, Pertamina optimistis hidrogen dapat menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih.

