Teheran (tutur.co.id) – Serangan militer Amerika Serikat (AS) baru-baru ini tidak hanya menyisakan puing-puing namun juga telah merenggut beberapa warga sipil Iran. Ceceran darah di Jembatan Bandar Khamir itu yang membuat Iran semakin meradang dan kembali mengumandangkan bara perlawanan sampai titik darah penghabisan.
Ya, di atas Jembatan Bandar Khamir, tiga penduduk desa gugur seketika saat sedang melintas setelah dihantam serangan Udara AS. Darah mereka tumpah, mengalir, dan kini menjadi bahan bakar api perlawanan yang mustahil dipadamkan.
Menanggapi tragedi berdarah ini, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, langsung menyuarakan ketegasannya. Lewat pernyataannya yang dikutip dari Kantor Berita Tasnim melalui Pars Today, Araghchi menegaskan bahwa keadilan akan ditegakkan dengan harga mati.
“Tiga warga desa gugur saat menyeberangi Jembatan Bandar Khamir. Mereka benar-benar tidak bersalah, dan kami tidak akan pernah membiarkan darah mereka sia-sia,” kata Araghchi.
Bagi sang Menteri, batas-batas peta bukan sekadar garis di atas kertas, melainkan harga diri bangsa yang siap dibela mati-matian.
“Iran adalah tanah air kami, dari selatan ke utara dan dari timur ke barat. Kami akan mempertahankan setiap inci tanah kami hingga nafas terakhir kami!” tegas Araghchi.
Rasa amarah juga dimuntahkan Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref. Ia mengingatkan dunia, terutama pihak agresor, bahwa Iran bukanlah wilayah yang bisa dikotak-kotakkan. Ketika satu titik diserang, seluruh tubuh bangsa akan bangkit melawan.
“Dalam doktrin nasional dan strategis Republik Islam Iran, utara, selatan, timur, dan barat negara hanyalah pembagian administratif dan geografis. Yang tetap tak terpisahkan adalah realitas tunggal yang disebut ‘Iran Raya’,” tegas Aref.
Aref mengirimkan pesan langsung ke Washington bahwa setiap jengkal tanah yang diinjak oleh agresi asing adalah serangan langsung terhadap kedaulatan, martabat, dan seluruh sistem pemerintahan Iran Raya. Tidak ada ruang untuk negosiasi, dan tidak ada toleransi untuk rasa takut.
Kini, genderang perang tampaknya telah Kembali ditabuh. Iran tidak akan terburu-buru melepaskan amarahnya dalam kebutaan. Aref membocorkan bahwa tanggapan dari Teheran terhadap tindakan lancung ini sedang dirajut dengan sangat dingin, penuh perhitungan, dan mematikan.
Skenario pembalasan Iran dipastikan akan bersandar pada perencanaan yang komprehensif, cerdas, dan yang paling penting punya daya kejut yang besar.
Di tengah ketegangan yang kian mencekam, dunia kini Kembali tertuju pada Timur Tengah, menanti dalam senyap kapan dan bagaimana “kejutan” dari Iran Raya itu akan menghantam balik.

