Jakarta (tutur.co.id) — Prospek pasar Surat Utang Negara (SUN) pada pekan depan diperkirakan tetap kondusif seiring membaiknya sentimen domestik dan meningkatnya daya tarik imbal hasil (yield) obligasi pemerintah.
Lelang SUN yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juli 2026 diproyeksikan tetap mendapat respons positif dari investor meski pemerintah menawarkan target indikatif yang relatif besar sebagai bagian dari strategi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan tingginya yield SUN menjadi salah satu faktor utama yang menarik minat investor. Namun, menurutnya, faktor tersebut harus diimbangi dengan stabilitas nilai tukar rupiah dan terjaganya kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.
“Yield yang tinggi memang menjadi daya tarik. Namun bagi investor asing, hal itu belum cukup apabila pelemahan rupiah masih berlanjut karena keuntungan investasi dapat tergerus oleh risiko nilai tukar,” ujar Yusuf, Minggu (5/7/2026).
Ia menambahkan, investor juga masih mencermati kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan APBN 2026. Karena itu, pemerintah perlu terus menunjukkan bahwa pengelolaan defisit dan strategi pembiayaan tetap berada pada jalur yang kredibel dan berkelanjutan.
Dari sisi global, pasar obligasi masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) serta dinamika geopolitik yang membuat investor cenderung lebih selektif dalam menempatkan dana di negara berkembang.
Meski demikian, Yusuf menilai kenaikan yield SUN dalam beberapa waktu terakhir mulai mendorong kembalinya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
“Arus dana asing sudah mulai kembali masuk ke instrumen keuangan domestik setelah penyesuaian suku bunga oleh Bank Indonesia. Hanya saja, sebagian besar masih mengalir ke SRBI karena menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan risiko yang lebih rendah,” katanya.
Menurut Yusuf, agar aliran dana asing semakin besar mengalir ke pasar SUN, pemerintah perlu menjaga stabilitas rupiah sekaligus mempertahankan real yield Indonesia tetap kompetitif dibandingkan negara-negara lain.
Untuk lelang SUN pada 7 Juli 2026, Yusuf memperkirakan permintaan investor akan terkonsentrasi pada seri-seri obligasi bertenor pendek hingga menengah.
Menurutnya, kondisi suku bunga yang masih tinggi serta kurva imbal hasil (yield curve) yang masih terbalik membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada obligasi berdurasi panjang guna meminimalkan risiko penurunan harga.
“Tenor pendek menjadi pilihan untuk mengurangi risiko durasi, sedangkan tenor menengah tetap menarik karena memberikan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko investasi,” ujarnya.
Sebaliknya, obligasi dengan tenor sangat panjang diperkirakan belum menjadi pilihan utama karena investor masih meminta premi risiko yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Yusuf menilai target indikatif lelang SUN yang relatif besar merupakan bagian dari strategi front loading pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan APBN 2026 lebih awal.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berupaya mengamankan kebutuhan pendanaan ketika kondisi pasar mulai membaik sekaligus memanfaatkan momentum meningkatnya minat investor terhadap surat utang negara.
Meski demikian, ia menegaskan target indikatif tersebut tetap bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi pasar.
“Pemerintah tetap memiliki ruang untuk menyesuaikan jumlah penyerapan sesuai kondisi pasar. Jadi, meskipun target indikatif besar, realisasi penerbitannya akan mempertimbangkan tingkat permintaan dan biaya dana yang dianggap optimal,” kata Yusuf.

