Dallas (Tutur.co.id) – Mohamed Salah berada di ambang salah satu momen paling bersejarah dalam kariernya saat Mesir bersiap menghadapi Australia pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di AT&T Stadium, Dallas, Sabtu (4/7/2026) 01.00 WIB. Laga ini bukan sekadar perebutan tiket ke babak 16 besar, tetapi juga kesempatan bagi sang kapten untuk memperkuat warisannya sebagai ikon terbesar sepak bola Mesir dan salah satu legenda terbaik yang pernah dimiliki Afrika.
Bagi Mesir, kemenangan atas Australia akan menjadi langkah bersejarah menuju pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia. Sementara bagi Salah, pertandingan ini bisa menjadi peluang terakhir untuk memberikan hadiah terbesar yang selama ini belum pernah ia persembahkan kepada negaranya.
Mohamed Salah, Simbol Kebangkitan Sepak Bola Mesir
Nama Mohamed Salah sudah lama melampaui status sebagai pemain terbaik Mesir. Ia telah menjadi simbol harapan, kebanggaan, sekaligus inspirasi bagi jutaan rakyat Mesir.
Perjalanan luar biasanya bersama Liverpool mengukuhkan statusnya sebagai salah satu pemain terbaik dunia. Salah telah meraih gelar Liga Inggris, Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, dua kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Inggris, dua kali menyabet penghargaan Pemain Terbaik Afrika, serta menjadi pencetak gol terbanyak Liverpool sepanjang sejarah di era Premier League.
Namun, di balik semua kesuksesan tersebut, masih ada satu impian yang belum terwujud: membawa Mesir menorehkan sejarah di Piala Dunia.
Pada fase grup Piala Dunia 2026, Salah akhirnya berhasil mengantar Mesir meraih kemenangan pertama mereka sepanjang sejarah turnamen setelah mengalahkan Selandia Baru 3-1. Momen tersebut menjadi tonggak penting bagi sepak bola Mesir sekaligus memperlihatkan kembali betapa besar pengaruh sang kapten di lapangan.
Lebih dari Sekadar Kapten Tim
Kontribusi Salah bagi negaranya tidak hanya diukur dari jumlah gol ataupun trofi. Ia telah mencatat lebih dari seratus penampilan bersama tim nasional dan menjadi sosok yang menyatukan harapan jutaan rakyat Mesir.
Popularitasnya bahkan melampaui dunia sepak bola. Pada pemilihan presiden Mesir tahun 2018, lebih dari satu juta surat suara dilaporkan mencoret nama kedua kandidat resmi dan menggantinya dengan tulisan tangan bertuliskan “Mohamed Salah”, sebuah bukti besarnya kecintaan masyarakat terhadap sang bintang.
Beberapa bulan setelah peristiwa tersebut, Salah menjadi tokoh utama yang membawa Mesir kembali tampil di Piala Dunia setelah penantian selama 28 tahun. Kini, kesempatan terakhir untuk melengkapi kisah besarnya kembali terbuka di Amerika Serikat.
Dari Kritik Menjadi Kepercayaan Penuh
Hubungan Salah dengan pelatih Mesir, Hossam Hassan, sempat menjadi sorotan. Saat Salah kembali ke Liverpool untuk menjalani pemulihan cedera pada Piala Afrika 2024, Hossam Hassan yang saat itu masih menjadi pengamat sepak bola termasuk sosok yang mengkritiknya. Banyak pihak mempertanyakan apakah Salah lebih mementingkan klub dibanding tim nasional.
Namun waktu mengubah segalanya. Kini Hossam Hassan justru menjadi pelatih Mesir dan memberikan kepercayaan penuh kepada Salah. Ia mengubah peran sang kapten menjadi lebih bebas bergerak di berbagai area lapangan sehingga mampu memberikan pengaruh lebih besar dalam membangun serangan.
“Saya melihat Mohamed Salah versi baru. Dia bermain lebih bebas, lebih kreatif, dan lebih berbahaya,” ujar Hossam Hassan.
Keputusan tersebut terbukti efektif. Salah kini hanya terpaut dua gol dari rekor 69 gol milik Hossam Hassan sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Timnas Mesir.
Meski demikian, ambisi terbesar Salah bukan sekadar mengejar rekor individu. Ia ingin membawa negaranya melangkah sejauh mungkin di Piala Dunia.
Kondisi Fisik Jadi Perhatian
Jelang menghadapi Australia, kondisi fisik Mohamed Salah menjadi perhatian utama. Kapten Mesir itu sempat mengalami cedera hamstring saat menghadapi Iran dan harus meninggalkan lapangan lebih cepat. Cedera tersebut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa ia akan absen pada laga hidup-mati melawan Australia.
Meski sudah kembali mengikuti latihan penuh setelah menjalani program pemulihan intensif, kondisi Salah masih terus dipantau oleh tim medis. Kehadirannya sangat penting mengingat ia terlibat langsung dalam enam gol Mesir dari sembilan pertandingan kompetitif terakhir, baik melalui gol maupun assist.
Salah Tak Bisa Berjuang Sendirian
Meski menjadi pemain paling menentukan, Salah tidak mungkin membawa Mesir melangkah sendirian. Australia dikenal sebagai tim dengan organisasi pertahanan yang disiplin dan sulit ditembus. Tim asuhan Tony Popovic lebih mengutamakan keseimbangan permainan dibanding menyerang secara terbuka.
Karena itu, peran Omar Marmoush dan Trezeguet akan sangat penting untuk membuka ruang dan mengurangi tekanan yang diterima Salah. Keduanya diharapkan mampu menarik perhatian lini belakang Australia sehingga Salah memiliki lebih banyak ruang untuk mengeksploitasi pertahanan lawan.
Mesir juga harus menghindari permainan lambat yang diinginkan Australia. Semakin lama pertandingan berjalan tanpa gol, semakin besar peluang Socceroos memanfaatkan duel fisik dan kesabaran untuk mengganggu ritme permainan The Pharaohs.
Kesempatan Terakhir Menuju Keabadian
Bagi rakyat Mesir, kemenangan pertama di Piala Dunia mungkin sudah menjadi sejarah yang akan dikenang selamanya. Namun bagi Mohamed Salah, pencapaian tersebut belum cukup.
Di usia yang tidak lagi muda dan kemungkinan menjalani Piala Dunia terakhirnya, Salah masih memburu satu warisan terbesar: membawa Mesir melangkah sejauh mungkin di panggung sepak bola dunia.
Jika kondisi fisiknya memungkinkan tampil maksimal di Dallas, laga melawan Australia bisa menjadi malam yang mengubah segalanya—bukan hanya bagi karier Salah, tetapi juga bagi sejarah sepak bola Mesir.
Bagi sang “Raja Mesir”, perjalanan belum selesai. Ia masih mengejar sesuatu yang lebih besar daripada sekadar rekor, yakni keabadian sebagai pemain yang mengangkat negaranya menuju era terbaik dalam sejarah Piala Dunia.

