Jakarta (tutur.co.id) – Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru, Jeffrey Hendrik, menegaskan fokus kepemimpinannya tidak hanya mengembalikan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat regional, tetapi juga membawa BEI masuk jajaran 10 bursa saham terbesar di dunia.
Untuk mewujudkan target tersebut, BEI akan memperdalam pasar modal melalui peningkatan jumlah emiten berkualitas, memperkuat peran investor institusi domestik, serta mengembalikan kepercayaan investor asing.
Jeffrey mengatakan pengembangan pasar modal harus dilakukan secara seimbang, baik dari sisi pasokan (supply) maupun permintaan (demand). Dari sisi supply, BEI akan mendorong semakin banyak perusahaan berkapitalisasi besar mencatatkan sahamnya di bursa sehingga kapitalisasi pasar terus meningkat.
“Salah satu supply yang berkualitas tentu adalah perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi besar dalam jumlah yang banyak. Dari sisi demand, kita sudah memiliki jumlah investor ritel yang luar biasa besar. Ke depan partisipasi investor institusi domestik juga akan semakin tinggi, dan yang sedang kami lakukan adalah menarik lebih banyak lagi investor asing. Dari situ pasar kita akan semakin dalam dan kontribusinya terhadap perekonomian menjadi lebih nyata,” ujar Jeffrey usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Menurut Jeffrey, pendalaman pasar menjadi agenda utama setelah jumlah investor ritel Indonesia meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pertumbuhan tersebut dinilai belum cukup untuk menopang kebutuhan likuiditas pasar yang terus berkembang.
Karena itu, BEI akan mempercepat berbagai reformasi guna meningkatkan kembali kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.
“Beban penyerapan likuiditas tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada investor ritel. Reformasi yang kami lakukan saat ini adalah menumbuhkan kembali confidence investor global untuk masuk ke Indonesia. Nantinya investor asing, investor institusi domestik, dan investor ritel akan bersama-sama menciptakan dinamika pasar yang sehat,” katanya.
Jeffrey menegaskan target BEI tidak lagi sekadar menjadi bursa terbesar di kawasan ASEAN. Menurutnya, Indonesia harus mampu bersaing di tingkat global.
“Target kami tidak lagi berbicara ASEAN. Kami berbicara bagaimana Indonesia bisa berada di 10 besar bursa dunia. Itu dilakukan melalui pendalaman pasar secara terus-menerus, baik dari sisi supply maupun demand. Ke depan harus semakin banyak perusahaan dengan kapitalisasi besar yang tercatat di bursa sehingga kapitalisasi pasar meningkat, jumlah investor bertambah, dan pasar modal Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia,” ujarnya.
Ia menilai kombinasi bertambahnya emiten berkualitas, meningkatnya partisipasi investor institusi domestik, serta pulihnya minat investor asing akan menjadi fondasi utama dalam memperdalam pasar sekaligus meningkatkan kontribusi pasar modal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain memperluas basis investor, BEI juga akan mendorong lebih banyak perusahaan dengan fundamental kuat melantai di bursa. Langkah tersebut diyakini akan meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global sekaligus memperbesar kapitalisasi pasar.
Strategi itu akan dijalankan bersamaan dengan upaya memperkuat peran investor institusi domestik agar struktur investor menjadi lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada arus modal asing.
Sebagai informasi, Jeffrey Hendrik resmi menjabat sebagai Direktur Utama BEI untuk masa bakti 2026–2030 berdasarkan keputusan RUPST BEI yang digelar pada Senin (29/6/2026).

