Jakarta (tutur.co.id) – Hasil tinjauan pasar (market review) yang dilakukan MSCI dan FTSE Russell menjadi perhatian utama pelaku pasar pekan ini. Namun, penilaian kedua lembaga indeks global tersebut dinilai tidak berfokus pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, melainkan pada kualitas, aksesibilitas, dan kredibilitas pasar modal nasional.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan Indonesia masih memiliki daya tarik ekonomi jangka panjang berkat jumlah penduduk yang mencapai sekitar 280 juta jiwa dan potensi pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil.
Meski demikian, menurutnya, pertanyaan utama investor global saat ini bukan lagi soal kemampuan ekonomi Indonesia untuk tumbuh, melainkan apakah pasar modal Indonesia masih memenuhi standar yang dibutuhkan investor institusi untuk menempatkan dana dalam jangka panjang.
“Menurut kami, sebagian kekhawatiran tersebut sudah tercermin dalam arus keluar dana asing yang mencapai hampir Rp80 triliun sepanjang tahun berjalan ini,” ujar Liza dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar investor institusi dan investor asing sebenarnya telah mengantisipasi hasil review MSCI dan FTSE Russell. Oleh karena itu, perhatian pasar kini lebih tertuju pada perubahan persepsi investor terhadap Indonesia dibandingkan dampak teknis perubahan indeks itu sendiri.
Liza bahkan menilai terdapat indikasi akumulasi saham oleh pelaku pasar tertentu di tengah valuasi saham Indonesia yang dinilai masih murah setelah koreksi tajam dalam beberapa bulan terakhir.
“Tak ayal, kami juga curiga bahwa front running smart money ketika valuasi saham sedang murah-murahnya seperti saat ini, telah terjadi secara diam-diam, walau tanpa bendera asing,” katanya.
Menurut Liza, investor global saat ini tidak hanya menunggu keputusan apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market, tetapi juga mencermati apakah MSCI dan FTSE memberikan catatan khusus terkait aksesibilitas pasar, kepastian regulasi, perlindungan investor, serta independensi mekanisme pasar.
“Karena itu, review tahun ini memiliki bobot psikologis yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Ia mengungkapkan terdapat tiga isu utama yang berpotensi menjadi perhatian MSCI dan FTSE terhadap pasar modal Indonesia.
Pertama adalah market accessibility atau kemudahan akses investasi. Investor asing sangat memperhatikan aspek kemudahan transaksi, proses settlement, fasilitas short selling, securities lending, hingga efisiensi operasional pasar secara keseluruhan.
Kedua adalah predictability of policy atau kepastian kebijakan. Menurut Liza, investor global pada dasarnya dapat menerima perubahan regulasi, tetapi sangat sensitif terhadap kebijakan yang muncul secara mendadak, minim konsultasi dengan pelaku pasar, atau berpotensi mengubah mekanisme pasar secara signifikan.
Ketiga adalah aspek governance dan market confidence. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kebijakan dan pembentukan lembaga investasi strategis negara memunculkan diskusi mengenai meningkatnya peran pemerintah dalam pasar keuangan nasional.
“Bagi investor asing, yang terpenting bukan siapa pelakunya, melainkan apakah mekanisme pasar tetap transparan, kompetitif, dan dapat diprediksi,” kata Liza.
Karena itu, ia menilai risiko terbesar bagi pasar modal Indonesia saat ini bukan berasal dari kondisi ekonomi makro, melainkan dari persepsi investor terhadap kualitas institusi, tata kelola pasar, serta kepastian aturan yang berlaku.
Dengan demikian, hasil review MSCI dan FTSE Russell kali ini diperkirakan akan menjadi salah satu penentu sentimen pasar dalam jangka pendek, terutama terkait arus modal asing dan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan.

