Jakarta (tutur.co.id) — Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) dinilai mulai membuka peluang kembalinya minat investor asing ke pasar Surat Utang Negara (SUN). Namun, langkah moneter yang agresif tersebut diperkirakan lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi jangka pendek ketimbang solusi permanen untuk mengembalikan arus modal asing ke pasar obligasi domestik.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate merupakan respons yang tepat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih tinggi akibat ketidakpastian global dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Menurut Yusuf, kenaikan suku bunga tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga meningkatkan daya tarik instrumen keuangan berdenominasi rupiah, termasuk Surat Utang Negara (SUN), di mata investor global.
“Kenaikan BI-Rate tetap merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama dalam kondisi tekanan terhadap rupiah yang cukup kuat,” ujar Yusuf, Minggu (14/6/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan suku bunga berpotensi memperbaiki keseimbangan antara risiko dan tingkat imbal hasil (yield) yang menjadi pertimbangan utama investor dalam menentukan alokasi portofolio mereka. Dengan yield SUN yang relatif tinggi dibandingkan banyak negara lain, Indonesia masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian pasar global.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa keputusan investor asing tidak hanya ditentukan oleh tingkat suku bunga. Faktor lain seperti stabilitas nilai tukar, kondisi fiskal pemerintah, arah kebijakan moneter global, hingga perkembangan geopolitik juga memiliki pengaruh yang signifikan.
“Bagi investor asing, imbal hasil yang diterima dihitung dalam dolar AS. Karena itu ketika volatilitas rupiah meningkat, kenaikan suku bunga perlu disertai keyakinan bahwa nilai tukar dapat lebih stabil,” katanya.
Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026 dan kembali menaikkannya 25 basis poin menjadi 5,50% pada Juni 2026. Secara kumulatif, suku bunga acuan telah naik 75 basis poin dalam dua bulan terakhir sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global yang dipicu konflik Timur Tengah.
Dalam kondisi tersebut, SUN masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan instrumen obligasi negara lain. Jika stabilitas rupiah dapat dipertahankan, peluang masuknya kembali dana asing ke pasar obligasi Indonesia dinilai semakin terbuka.
Yusuf menilai kebijakan moneter yang lebih ketat juga berpotensi memperbaiki sentimen pasar sekaligus menahan tekanan jual yang sempat terjadi akibat pelemahan rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global.
“Dengan stabilitas rupiah yang lebih terjaga, investor memiliki ruang untuk kembali mempertimbangkan SUN sebagai instrumen yang menawarkan yield relatif menarik dibandingkan banyak negara lain,” ujarnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pergerakan yield SUN tetap akan sangat dipengaruhi oleh persepsi investor terhadap risiko fiskal pemerintah dan kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang masih besar.
Karena itu, kenaikan BI-Rate belum tentu langsung menurunkan yield SUN secara signifikan. Setidaknya, kebijakan tersebut dapat menjadi bantalan yang membantu mencegah kenaikan yield yang lebih tajam apabila tekanan pasar kembali meningkat.
Yusuf juga mengingatkan bahwa struktur pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat ini telah berubah dibandingkan beberapa tahun lalu. Porsi kepemilikan asing dalam obligasi pemerintah terus menurun, sehingga pengaruh langsung kebijakan suku bunga terhadap permintaan SUN tidak lagi sekuat sebelumnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti efektivitas kebijakan Bank Indonesia berkurang. Kenaikan suku bunga tetap memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, memperkuat kepercayaan investor, serta membuka peluang masuknya kembali dana asing ke pasar domestik.
Menurut Yusuf, investor asing dalam jangka pendek kemungkinan akan lebih tertarik pada obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Sementara itu, minat terhadap obligasi tenor panjang masih akan ditentukan oleh perkembangan fiskal, prospek inflasi, serta arah pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa kuartal mendatang.
Dengan kata lain, kenaikan BI-Rate memang memperkuat daya tarik SUN, tetapi belum cukup untuk menjadi faktor tunggal yang mengembalikan derasnya aliran modal asing. Stabilitas rupiah, disiplin fiskal, dan kejelasan arah kebijakan ekonomi tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

