Jakarta (tutur.co.id) – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan nilai tukar rupiah berpeluang menguat secara bertahap pada semester II-2026 seiring penguatan koordinasi kebijakan ekonomi dan meningkatnya kepercayaan investor.
“Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II-2026,” kata Purbaya dalam rapat Panitia Kerja Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di Komisi XI DPR, Rabu 10 Juni 2026.
Menurut Purbaya, pemerintah optimistis sinergi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan akan mendukung upaya penguatan nilai tukar rupiah.
Selain itu, perbaikan tata kelola Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dan pendalaman pasar uang dinilai akan memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri. Ditambah dengan perbaikan kepercayaan investor, tambah Purbaya.
Purbaya mengakui nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh level terdalam pada Juni 2026. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh sentimen global, meningkatnya risk-off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan finansial domestik.
Meski demikian, ia melihat adanya perbaikan signifikan pada arus modal asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal II-2026.
“Terutama pada instrumen SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meskipun pasar saham masih mencatat outflow, namun secara keseluruhan minat investor terhadap instrumen keuangan domestik masih tetap terjaga,” ujarnya.
Purbaya menegaskan pemerintah bersama otoritas terkait akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan melalui penguatan koordinasi kebijakan dan peningkatan kepercayaan pasar.
Menurutnya, langkah tersebut diharapkan dapat mendorong arus modal kembali ke level yang mencerminkan nilai fundamentalnya. Dengan begitu, pasar modal akan kembali menjadi penopang pembiayaan ekonomi nasional dan instrumen investasi yang profitable.

