Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 254,3 poin atau 4,1% ke level 5.941,07 pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Setelah tekanan datang dari pelemahan rupiah, keluarnya dana asing, serta sorotan lembaga pemeringkat global, perhatian investor kini tertuju pada dua agenda krusial yang berpotensi menentukan arah pasar modal Indonesia dalam jangka pendek.
Pada 19 Juni 2026, pasar akan mencermati pelaksanaan MSCI Global Market Accessibility Review dan FTSE Russell Global Equity Index Series Review. Selanjutnya, FTSE Rebalancing akan efektif pada 22 Juni, disusul MSCI Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai FTSE dan MSCI berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia setelah sebelumnya muncul prospek negatif dari Moody’s dan Fitch Ratings.
“Setelah Moody’s dan Fitch, FTSE dan MSCI kembali berpotensi menjadi ujian berikutnya bagi kredibilitas pasar modal Indonesia,” ujarnya dalam ulasan yang dikutip Kamis (4/6/2026).
Menurut Liza, sebagian besar sentimen negatif yang membayangi pasar sebenarnya telah muncul dalam enam bulan terakhir. Mulai dari pelemahan rupiah, arus keluar dana asing (foreign outflow), prospek negatif dari Moody’s dan Fitch, meningkatnya kekhawatiran terhadap peringkat kredit Indonesia, hingga proses evaluasi pasar oleh FTSE dan MSCI.
Meski demikian, Indonesia sejauh ini masih mempertahankan status investment grade. Standard & Poor’s (S&P) juga masih mempertahankan outlook stabil, sementara MSCI belum mengubah klasifikasi pasar Indonesia dan FTSE belum memasukkan Indonesia ke dalam daftar pemantauan penurunan peringkat (downgrade watch list).
Dengan kata lain, sebagian risiko yang saat ini dikhawatirkan investor masih bersifat potensi, bukan realisasi. Namun, pasar tetap menilai terdapat risiko kebijakan yang dapat muncul secara tiba-tiba dan memicu ketidakpastian baru.
“Sementara pasar masih mencerna implementasi awal DSI dan DHE SDA, muncul lagi aturan baru pajak UMKM. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dalam waktu dekat,” kata Liza.
Menurut dia, pelaku pasar kini tidak lagi mencari alasan untuk menjual aset Indonesia. Sebaliknya, investor sedang menunggu alasan yang cukup kuat untuk kembali membeli.
“Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan pasar pada perdagangan Rabu. IHSG sempat menyentuh area 5.882 atau kembali ke level terendah sejak 2025, sementara nilai tukar rupiah menembus Rp17.950 per dolar AS. Pada saat yang sama, sejumlah indeks saham global justru mencetak rekor tertinggi baru.
Liza menilai fokus investor saat ini telah bergeser dari prospek pertumbuhan ekonomi menuju aspek tata kelola dan kredibilitas kebijakan.
Menurutnya, terdapat lima isu utama yang mendominasi sentimen pasar, yakni kredibilitas kebijakan pasca outlook negatif Moody’s dan Fitch, tekanan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, menyusutnya kelas menengah sebagai motor konsumsi domestik, berlanjutnya arus keluar dana asing, serta meningkatnya risiko komunikasi dan kepemimpinan kebijakan (leadership and policy communication risk).
Ia menambahkan, pasar mulai memperlakukan Indonesia berbeda dibandingkan negara berkembang lainnya.
Data menunjukkan ETF Indonesia atau EIDO mencatat return negatif 28,6% sejak awal tahun. Sebagai perbandingan, indeks emerging markets justru naik 64,6%, Vietnam menguat 63,2%, Taiwan melonjak 107,2%, dan Amerika Serikat naik 30,9%.
“Investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets. Mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia,” kata Liza.
Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Menurutnya, indeks berisiko menguji area psikologis berikutnya di kisaran 5.800 apabila tekanan jual dan arus keluar dana asing terus berlanjut.
“Pasar yang sedang mengalami krisis sentimen sering kali bergerak tidak rasional dalam jangka pendek. IHSG masih berpotensi menguji area 5.800 hingga 6.000 sebelum menemukan keseimbangan baru,” ujarnya.
Hendra menilai pelemahan pasar domestik tidak hanya dipicu oleh faktor eksternal seperti meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel. Tekanan juga berasal dari faktor domestik, termasuk pelemahan rupiah, kekhawatiran terhadap kebijakan ekspor satu pintu, serta berlanjutnya arus keluar dana asing.
Di tengah mayoritas bursa Asia yang bergerak positif, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap pasar Indonesia lebih banyak dipengaruhi faktor internal.
Menurut Hendra, kesenjangan antara narasi fundamental ekonomi yang masih kuat dengan realitas pasar yang terus melemah telah memengaruhi persepsi investor.
“Kepercayaan investor merupakan aset yang sangat mahal nilainya,” ujarnya.
Data perdagangan menunjukkan investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) sekitar Rp864 miliar pada Rabu. Secara kumulatif sejak awal tahun, dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar Rp67 triliun.
Hendra menilai volatilitas pasar masih akan tinggi selama belum ada katalis yang mampu mengembalikan kepercayaan investor global. Meski demikian, ia melihat sejumlah saham unggulan mulai memasuki area valuasi yang menarik untuk investasi jangka panjang.
Bagi investor jangka panjang, strategi akumulasi bertahap masih dapat dipertimbangkan pada saham-saham berfundamental kuat. Namun, pembelian sebaiknya dilakukan secara selektif mengingat risiko koreksi lanjutan masih terbuka.
“Pemulihan pasar tidak hanya membutuhkan stabilisasi rupiah atau meredanya konflik global, tetapi juga membutuhkan kembalinya kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi domestik,” kata Hendra.

