Jakarta (tutur.co.id) — Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan strategi fiskal, khususnya dari sisi pembiayaan, untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperluas penerbitan surat utang dalam mata uang selain dolar AS di tengah penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang sempat menyentuh level Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026).
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengatakan perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat menghadapi ketidakpastian global yang dipicu perang tarif dan dinamika geopolitik. Menurutnya, ketahanan tersebut didukung oleh bauran energi nasional yang relatif lebih baik serta pengelolaan fiskal yang dijalankan secara pruden.
“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ujar Juda dalam kuliah umum di Institut Pertanian Bogor, dikutip dari laman Kemenkeu, Minggu (31/5/2026).
Juda menjelaskan pemerintah secara konsisten menerapkan tiga strategi fiskal untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, disiplin fiskal, dan stabilitas makroekonomi. Dari sisi belanja negara, pemerintah tetap menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi dengan mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meskipun membutuhkan tambahan anggaran subsidi. Di saat yang sama, belanja negara diarahkan pada sektor-sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan produksi, dan menciptakan lapangan kerja.
Selain itu, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diefisienkan, termasuk melalui pengurangan pelaksanaan pada hari Sabtu. Menurut Juda, langkah refocusing anggaran dilakukan agar belanja pemerintah lebih efektif dalam mendorong permintaan dan penawaran di perekonomian.
Dari sisi penerimaan negara, pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas untuk meningkatkan pendapatan negara. Optimalisasi penerimaan pajak juga terus diperkuat melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas administrasi dan kepatuhan perpajakan.
Sementara itu, dari sisi pembiayaan, pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan memperluas penerbitan surat utang berdenominasi mata uang non-USD yang menawarkan tingkat bunga kompetitif. Instrumen yang digunakan antara lain Samurai Bonds dalam mata uang yen Jepang (JPY), Dim Sum Bonds berdenominasi renminbi China, serta Kangaroo Bonds yang diterbitkan dalam dolar Australia.
Menurut Juda, efektivitas strategi tersebut tercermin pada kinerja ekonomi Indonesia sepanjang kuartal I-2026. Perekonomian nasional tercatat tumbuh 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali di level 2,42 persen. Di sisi fiskal, defisit anggaran hingga April 2026 berada di level 0,64 persen. Adapun yield dan spread Surat Berharga Negara (SBN) juga masih terjaga.
“Empat indikator ini, yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, dan yield SBN, menunjukkan bahwa kondisi fiskal Indonesia masih kuat. Strategi yang kita ambil bekerja dengan baik,” kata Juda.

