Jakarta (tutur.co.id) – Di tengah tren global yang mulai meninggalkan batu bara, Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan kapasitas PLTU tertinggi ketiga di dunia pada 2025.
Menurut laporan Global Energy Monitor (GEM) mencatat kapasitas PLTU RI tumbuh 4 gigawatt atau 7 persen, sementara tren global justru turun 0,6 persen untuk bergantung pada energi yang tak ramah lingkungan.
Pertumbuhan ini terutama didorong oleh PLTU captive untuk industri nikel dan aluminium di Sulawesi Tengah serta Maluku Utara. Ini menjadi cerminan bahwa komitmen transisi energi yang kerap disuarakan Presiden Prabowo dinilai tak sejalan dengan realita di lapangan.
“Pemerintah Indonesia telah berulang kali mengumumkan komitmen iklim yang cukup ambisius, tetapi pernyataan-pernyataan ini belum diterjemahkan ke dalam kebijakan dan rencana kelistrikan yang efektif,” kata Lucy Hummer, Peneliti Senior, Global Energy Monitor (GEM) dalam siaran pers, Jumat 22 Mei 2026.
Hingga akhir 2025, kapasitas PLTS atap di Indonesia hanya mencapai 479 megawatt, jauh di bawah target 870 MW. Sementara itu, total kapasitas PLTU Indonesia kini sudah menembus 60,7 GW, menjadikannya terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat.

