Jakarta (tutur.co.id) – Asosiasi Pengemudi Ojek Online (Ojol) Garda Indonesia memberikan apresiasi terhadap keputusan aplikator menghapus fitur program langganan hemat. Pasalnya keputusan kedua aplikator Grab dan Gojek merupakan salah satu keluhan yang dirasakan oleh para driver selama ini.
“Ya ini merupakan langkah bagus yang dilakukan oleh perusahaan aplikator GoTo ya, atau Gojek, untuk menghapus skema langganan atau skema hemat. Karena ini yang dinantikan oleh rekan-rekan pengemudi ojek online,” kata Ketua Umum Garda Indonesia Igun Wicaksana saat dihubungi Redaksi, Selasa 19 Mei 2026.
Igun menuturkan bagaimana fitur hemat dirasa menjadi beban tambahan driver selama ini. Bagaimana tidak, meskipun program tersebut tak ada paksaan, namun menimbulkan persaingan yang tidak sehat antara driver. Terlebih hadirnya fitur tersebut dirasa hanya menguntungkan satu pihak yakni memanjakan dari sisi pelanggan.
“Nah ini khususnya yang langganan karena selama ini mereka itu harus berlangganan untuk bisa mendapatkan order. Kalau tidak ikut langganan, itu sulit bisa dapatkan order. Dan juga skema hemat ini memang menguntungkan bagi pelanggan karena mendapatkan harga yang sangat murah ya, namun juga yang didapatkan oleh driver juga sangat kecil jadinya gitu,” ucapnya.
Masih kata Igun, fitur hemat yang selama ini diterapkan tidaklah gratis, driver harus membayar maksimal Rp20 ribu jika mendapatkan lebih dari 10 order. Tak hanya itu ia mengaku bahwa kerap kali aplikator menarik biaya lebih dari 20 persen.
“Belum lagi potongan. Jadi sudah diminta untuk berlangganan iya, nah potongannya juga dipotong melebihi 20 persen. Nah ini jadi double, driver ini keluar uang,” tambahnya.
Saat disinggung soal implementasi Perpres 27 Tahun 2026 tentang perlindungan pekerja transportasi, Igun berharap agar semua aplikator kembali menetapkan tarif normal dan tidak lagi adanya fitur-fitur berbayar agar mendapat potensi order lebih besar. Karena hal ini dinilai dapat menghapus persaingan yang tidak sehat antara driver.
“Kita inginkan semua layanan perusahaan aplikasi kembali ke skema reguler. Jadi tarif berlaku untuk seluruh driver, tidak ada driver dibeda-bedakan yang ikut langganan, yang ikut ngambil slot (fitur berbayar) itu bisa mendapatkan order, sedangkan yang tidak bersedia ikut tidak mendapatkan order. Ini agar dihilangkan hal tersebut,” tegas Igun.
Igun mewakili teman seprofesinya berharap agar Perpres yang sudah dikeluarkan Presiden Prabowo dapat segera terlaksana dan dipatuhi oleh seluruh penyedia aplikasi ojek online.
Diberitakan sebelumnya Goto telah mengumumkan menghapus fitur berbayar yang selama ini diterapkan kepada seluruh driver dan segera akan menetapkan biaya aplikasi sesuai arahan Presiden. Hal itu dilakukannya sejalan dengan keluhan yang dirasakan driver selama ini selain potongan biaya aplikasi sebesar 20 persen.
“Kami memutuskan untuk menghentikan program langganan tersebut, efektif dalam waktu dekat. Ke depannya, GoRide Hemat juga akan mengikuti sistem bagi hasil 8% seperti GoRide reguler,” kata Dirut GoTo Hans saat konferensi pers di Kantor GoTo, Jakarta, Selasa 19 Mei 2026.
Sejalan dengan Gojek, Grab juga telah mengumumkan menghapus fitur berbayar yang selama ini ditawarkan kepada driver.
“Penutupan program langganan ini dilakukan karena Grab Indonesia menilai diperlukan penyesuaian yang lebih baik lagi. Penutupan program langganan ini juga dilakukan guna menciptakan ekosistem yang berkelanjutan bagi seluruh pihak,” tulis Neneng dalam siaran persnya, Selasa, 19 Mei 2026.

