Jakarta (tutur.co.id) – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagi generasi muda yang tumbuh di era digital. Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 pun menjadi pengingat bahwa tantangan kebangkitan generasi masa kini bukan lagi soal perjuangan fisik, melainkan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara cerdas dan bijak.
Kemajuan AI membuka banyak peluang di bidang pendidikan, pekerjaan, hingga kreativitas digital. Namun di balik kemudahannya, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru yang perlu dihadapi melalui penguatan literasi digital.
Berikut lima tantangan literasi digital generasi muda di era AI:
• Banjir Informasi dan Hoaks
Akses internet yang semakin mudah membuat masyarakat menerima informasi dalam jumlah besar setiap hari. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar memiliki sumber terpercaya.
Teknologi AI kini bahkan mampu menghasilkan gambar, video, maupun tulisan yang tampak meyakinkan sehingga masyarakat perlu lebih kritis dalam memilah informasi agar tidak mudah terjebak hoaks dan disinformasi digital.
• Ketergantungan pada AI
Penggunaan AI generatif semakin populer untuk membantu membuat tugas, mencari jawaban, hingga menyusun pekerjaan.
Meski membantu meningkatkan efisiensi, penggunaan AI secara berlebihan juga dikhawatirkan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.
AI seharusnya menjadi alat bantu produktivitas, bukan menggantikan proses belajar dan berpikir manusia sepenuhnya.
• Kesenjangan Literasi Digital
Tidak semua masyarakat memiliki kemampuan digital yang setara. Perbedaan akses teknologi dan pemahaman digital masih menjadi tantangan di tengah percepatan transformasi digital.
Laporan PwC Indonesia menunjukkan sebanyak 69 persen responden di Indonesia telah menggunakan AI dalam satu tahun terakhir, sementara 16 persen di antaranya menggunakan AI generatif setiap hari.
Data tersebut menunjukkan penggunaan AI semakin meluas, namun peningkatan literasi digital tetap diperlukan agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
• Ancaman Privasi dan Keamanan Data
Semakin tingginya aktivitas digital juga meningkatkan risiko kebocoran data pribadi. Banyak pengguna internet masih belum memahami pentingnya menjaga keamanan akun, kata sandi, hingga data pribadi di platform digital.
Kesadaran mengenai keamanan siber menjadi bagian penting dalam membangun generasi digital yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
• Menjaga Nilai Kemanusiaan
Di tengah perkembangan AI yang semakin canggih, generasi muda juga menghadapi tantangan menjaga empati, etika, dan interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Kemajuan teknologi tidak seharusnya menghilangkan nilai kemanusiaan. Karena itu, literasi digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memanfaatkannya secara bijak dan bertanggung jawab.
Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momentum refleksi bahwa kebangkitan generasi muda saat ini dapat dimulai dari kemampuan berpikir kritis, memahami teknologi, serta membangun budaya digital yang sehat di tengah era AI.

