Jakarta (tutur.co.id) — IHSG diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (18/5/2026) dengan rentang pergerakan di area 6.870-7.020. Pelemahan rupiah dan tekanan pasar global dinilai masih menjadi sentimen utama yang membebani pasar saham domestik.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebut peluang berlanjutnya penurunan IHSG semakin terbuka setelah indeks menembus level support penting pada perdagangan pekan lalu dan membentuk lower low baru.
“Sehingga terbuka peluang pelemahan menuju ke fibo extension di level 6.660 – 6.532. Pelemahan rupiah menjadi faktor penting karena mempunyai potensi foreign outflow semakin masif,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Tekanan terhadap IHSG juga dipicu koreksi tajam bursa saham Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 1,07%, sementara S&P 500 melemah 1,24% dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,54%.
Di tengah tekanan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham pilihan yang dinilai menarik untuk dicermati investor, yakni GGRM dengan target harga Rp17.650-18.250, TINS dengan target harga Rp3.900-4.100, serta SMIL dengan target harga Rp304-316.
Pada perdagangan pekan lalu, IHSG tercatat anjlok 246,07 poin atau 3,53% ke level 6.723. Koreksi selama tiga hari beruntun membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut hingga Rp581 triliun menjadi Rp11.825 triliun.
Tekanan terbesar terhadap indeks berasal dari kejatuhan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham BMRI tercatat melemah 9,29%, BREN turun 21,95%, TPIA terkoreksi 21,82%, DSSA melemah 20,99%, dan BBRI turun 4,29%.
Pelemahan indeks juga terjadi seiring koreksi hampir seluruh sektor saham. Sektor industri tercatat turun 3,41%, sektor energi melemah 3,59%, sektor konsumer primer turun 2,33%, dan sektor keuangan terkoreksi 2,01%.
Di sisi lain, tekanan pasar juga tercermin dari aksi jual investor asing. Sepanjang pekan lalu, nilai penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp3,21 triliun, lebih tinggi dibanding pekan sebelumnya yang tercatat Rp2,43 triliun.

