London (Tutur.co.id) – Premier League berencana menolak perluasan wewenang Video Assistant Referee (VAR) mulai musim depan. Salah satu alasan utama yang menjadi pertimbangan adalah kekhawatiran durasi pertandingan akan semakin panjang dan mengganggu ritme permainan.
Rencana perluasan wewenang VAR sebelumnya muncul setelah International Football Association Board (IFAB) membuka peluang bagi kompetisi domestik untuk memberi otoritas lebih besar kepada VAR, termasuk dalam meninjau keputusan sepak pojok. Namun, penerapan aturan tersebut bersifat opsional sehingga setiap liga dapat menentukan kebijakannya masing-masing.
Di Inggris, Professional Game Match Officials Limited (PGMO) selaku badan yang mengatur wasit disebut telah menyarankan Premier League untuk tidak menambah cakupan tugas VAR. Pertimbangan utama mereka adalah potensi pertandingan berlangsung lebih lama akibat tambahan proses pemeriksaan video.
Selain masalah durasi pertandingan, Premier League juga mempertimbangkan dampak terhadap pengalaman penonton di stadion maupun siaran televisi. Kompetisi dinilai ingin menjaga tempo permainan tetap mengalir tanpa terlalu banyak interupsi akibat peninjauan ulang keputusan wasit.
Perdebatan mengenai penggunaan VAR kembali mencuat setelah keputusan kontroversial pada laga West Ham United melawan Arsenal. Gol penyama kedudukan West Ham dianulir usai tinjauan VAR karena dianggap terjadi pelanggaran terhadap kiper Arsenal, David Raya. Keputusan tersebut memicu berbagai reaksi karena dinilai berpengaruh terhadap persaingan gelar juara Liga Inggris musim ini.
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola, bahkan menyebut keputusan VAR kerap sulit diprediksi. Menurut dia, tim sebaiknya fokus memperbaiki performa sendiri daripada terlalu bergantung pada keputusan wasit maupun VAR.
“VAR seperti lemparan koin,” ujar Guardiola.
Keputusan final terkait perluasan wewenang VAR di Premier League dijadwalkan akan dibahas dalam rapat tahunan klub bulan depan. Hingga saat ini, mayoritas klub disebut cenderung mendukung rekomendasi PGMO untuk mempertahankan cakupan penggunaan VAR seperti saat ini.

