Jakarta (tutur.co.id) — Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026), di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data Bloomberg L.P. pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah melemah 98 poin atau 0,56% ke posisi Rp17.512 per dolar AS. Pada saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,19% ke level 98,137.
Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, rupiah sudah lebih dulu dibuka melemah 75 poin atau 0,43% ke level Rp17.489 per dolar AS.
Adapun pada perdagangan Senin sore (11/5/2026), rupiah ditutup turun 32 poin setelah sempat menyentuh level Rp17.414 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu buntunya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
“Investor tetap fokus pada Selat Hormuz, yang sebagian besar tetap tertutup sejak awal konflik,” ujar Ibrahim.
Menurut dia, pasar juga masih mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Dikutip dari MarketScreener
, ahli strategi mata uang OCBC, Christopher Wong, menilai penolakan Presiden AS Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian membuat pasar tetap waspada dan menopang penguatan dolar AS.
“Namun, penguatan USD masih terkendali, menunjukkan bahwa pasar belum menganggap berita terbaru sebagai guncangan penghindaran risiko sepenuhnya,” kata Wong.
Ia menambahkan, reaksi pasar berpotensi membesar apabila terjadi kegagalan formal dalam jalur diplomatik atau muncul eskalasi militer baru di kawasan Timur Tengah.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi derasnya arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah tingginya ketidakpastian global dan kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik.

