Jakarta (tutur.co.id) — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Jumat (8/5/2026), meski investor diminta tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung (profit taking) jangka pendek usai reli dalam beberapa hari terakhir.
Pada penutupan perdagangan Kamis (7/5/2026), IHSG menguat 81 poin atau 1,15% ke level 7.174,32. Penguatan indeks ditopang sentimen global yang mulai kondusif, terutama meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan IHSG kali ini kembali menunjukkan kuatnya pengaruh sentimen global terhadap pasar domestik.
“IHSG ditutup menguat didorong euforia pasar global setelah muncul harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran,” ujar Hendra kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).
Optimisme tersebut turut mengangkat mayoritas bursa Asia. Bahkan, indeks utama Jepang seperti Nikkei 225 disebut berhasil mencetak rekor tertinggi baru.
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari mulai stabilnya nilai tukar rupiah serta turunnya harga minyak dunia yang membantu memperbaiki persepsi risiko investor terhadap pasar domestik.
“Rupiah menguat ke area Rp17.333 per dolar AS, sehingga membantu menjaga persepsi stabilitas pasar domestik,” jelasnya.
Meski demikian, investor asing masih tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp360 miliar. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar global masih cenderung selektif terhadap aset berisiko di emerging markets.
Secara sektoral, penguatan IHSG ditopang saham-saham defensif dan sektor perbankan berkapitalisasi besar.
“Sektor kesehatan menjadi yang paling kuat dengan kenaikan 2,01%, dipimpin saham farmasi seperti KLBF, sementara saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA kembali menjadi motor penggerak indeks,” katanya.
Sebaliknya, sektor basic industry masih mengalami tekanan akibat koreksi saham petrokimia dan energi seiring ekspektasi normalisasi pasokan minyak global.
Secara teknikal, Hendra menilai IHSG mulai keluar dari fase konsolidasi dan membuka peluang melanjutkan rebound jangka pendek.
“Setelah breakout dari area 7.151 dan ditutup di 7.174, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju area 7.200 hingga 7.250 dalam jangka pendek,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan area tersebut merupakan resistance psikologis yang cukup kuat karena sebelumnya menjadi area distribusi pasar.
“Selama IHSG mampu bertahan di atas support 7.100 dan support kuat 7.050, tren rebound masih relatif terjaga,” tambahnya.
Untuk perdagangan hari ini, pasar masih akan mencermati perkembangan negosiasi geopolitik di Timur Tengah serta arah pergerakan rupiah.
“Pasar akan fokus pada perkembangan negosiasi pembukaan Selat Hormuz dan kepastian implementasi kesepakatan geopolitik tersebut,” kata Hendra.
Ia pun merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi jangka pendek, di antaranya MBMA dengan target Rp750, NIKL Rp500, LSIP Rp1.700, dan SCMA Rp300.
“Investor juga dapat tetap mencermati saham big caps perbankan dan kesehatan yang masih menjadi tujuan utama rotasi dana di tengah kondisi pasar yang mulai membaik,” tutupnya.
Sementara itu, Samuel Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi berada di level 7.500 pada skenario dasar tahun ini. Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi, menyebut proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi pertumbuhan laba emiten sebesar 2% dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.500 per dolar AS.
Menurut Prasetya, skenario bearish dapat membawa IHSG ke level 6.300 apabila rupiah melemah di atas Rp18.000 per dolar AS dan harga minyak menembus US$120 per barel.
“Begitu US$/IDR-nya lebih dari Rp18.000, ini pasti berpengaruh juga ke sektor consumer staples. Dari banks juga pasti terdampak di asset quality,” ujarnya.

