Melbourne (tutur.co.id) – Transportasi online di Australia berkembang pesat dalam satu dekade terakhir, terutama melalui sistem ride-hailing atau jasa transportasi yang menggunakan platform online seperti aplikasi. Layanan ini menghubungkan penumpang dengan pengemudi menggunakan teknologi GPS dan pembayaran digital.
Model bisnisnya mirip dengan negara lain, tetapi memiliki karakteristik tersendiri dari sisi regulasi dan pilihan layanannya. Di kota-kota besar seperti Sydney dan Melbourne, transportasi online sudah menjadi alternatif utama selain transportasi umum.
Beberapa platform utama yang beroperasi di Australia antara lain Uber, DiDi, dan Ola. Uber menjadi pemain dominan dengan jangkauan luas, sementara DiDi menawarkan harga yang relatif lebih murah dan kompetitif. Selain itu, terdapat layanan seperti Shebah yang fokus pada penumpang perempuan dengan pengemudi perempuan.
Selain ride-hailing, Australia juga memiliki konsep carpooling atau ridesharing antar individu yang cukup populer, terutama untuk perjalanan jarak jauh. Sistem ini memungkinkan pengemudi menawarkan kursi kosong kepada penumpang dengan biaya patungan BBM. Platform seperti CoSeats atau komunitas berbasis media sosial sering digunakan untuk tujuan ini. Model ini lebih hemat biaya dan banyak digunakan di daerah dengan keterbatasan transportasi umum.
Dari sisi inovasi, Australia belum seagresif negara lain dalam mengadopsi kendaraan otonom seperti robotaxi. Namun, pengembangan kendaraan self-driving tetap berlangsung melalui uji coba terbatas yang biasanya melibatkan perusahaan teknologi dan universitas.
Sementara itu, inovasi yang lebih terlihat saat ini adalah integrasi micro-mobility seperti e-bike sharing yang semakin berkembang di kota besar. Hal ini menunjukkan bahwa Australia lebih fokus pada efisiensi dan keberlanjutan dibandingkan otomatisasi penuh dalam jangka pendek.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, perbedaan paling mencolok terletak pada jenis layanan. Indonesia memiliki layanan ojek online seperti Gojek dan Grab yang menggunakan sepeda motor, sehingga lebih fleksibel di jalan sempit dan macet.
Selain itu, ekosistemnya lebih luas karena mencakup layanan pengiriman makanan, logistik, hingga pembayaran digital. Regulasi di Indonesia juga berkembang dari awalnya tidak jelas menjadi lebih terstruktur dengan aturan tarif dan keselamatan.
Sementara itu, China berada di level yang lebih maju dalam hal skala dan teknologi transportasi online. Platform seperti DiDi berkembang menjadi ekosistem mobilitas besar yang mencakup ride-hailing, autonomous driving, hingga integrasi dengan smart city.
China juga menjadi salah satu negara terdepan dalam pengembangan robotaxi dan kendaraan tanpa pengemudi di beberapa kota besar. Dibandingkan Australia, adopsi teknologi ini jauh lebih cepat karena dukungan pemerintah dan investasi teknologi yang besar jika dibandingkan dengan Indonesia.
Secara keseluruhan, transportasi online di Australia cenderung stabil, teratur, dan berorientasi pada kenyamanan pengguna. Indonesia unggul dalam fleksibilitas dan ekosistem layanan yang luas, sementara China memimpin dalam inovasi teknologi seperti autonomous vehicle.
Perbedaan ini mencerminkan kondisi geografis, regulasi, dan tingkat adopsi teknologi di masing-masing negara. Dengan perkembangan teknologi global, ketiga negara ini kemungkinan akan terus saling mempengaruhi dalam evolusi sistem transportasi online ke depan.

