Jakarta (tutur.co.id) — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meski dihadapkan pada tekanan global yang meningkat, terutama akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan per 30 April 2026 menunjukkan ketahanan sektor keuangan masih solid.
“Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ia menjelaskan, ketidakpastian global dipicu oleh gangguan distribusi energi, termasuk di Selat Hormuz, yang berdampak pada volatilitas harga minyak dan meningkatkan risiko stagflasi. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada 2026.
Meski pasar keuangan domestik mengalami tekanan—dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 6.956,80 pada akhir April dan nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.424 per dolar AS—fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61% serta cadangan devisa yang mencapai US$148,2 miliar. Dari sisi domestik, indeks keyakinan konsumen masih berada di zona optimistis, sementara penjualan ritel tumbuh 2,4% secara tahunan.
Untuk menjaga stabilitas, OJK terus melakukan pengawasan intensif dan stress test terhadap industri keuangan, serta mendorong penguatan manajemen risiko di lembaga jasa keuangan.
“OJK bersama self-regulatory organization terus mencermati perkembangan pasar dan mengambil respons kebijakan yang diperlukan,” tutup Friderica.

