Jakarta (tutur.co.id) – Anggota Komisi V DPR, Syafiuddin Asmoro mendukung langkah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional Taksi Green SM. Evaluasi ini dilakukan setelah taksi asal Vietnam ini dituding sebagai biang kerok insiden tabrakan antara KRL dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin 27 April 2026.
Syafiuddin Asmoro menganggap keberadaan Taksi Green SM perlu menjadi perhatian serius. Pasalnya, kendaraan tersebut tidak hanya diduga menjadi pemicu awal kecelakaan besar itu, tetapi juga memiliki catatan insiden yang berulang sepanjang tahun ini.
“Kasus ini bukan yang pertama. Taksi Green SM sudah beberapa kali bermasalah dan menimbulkan risiko keselamatan. Oleh karena itu, langkah Kemenhub untuk melakukan evaluasi menyeluruh sudah tepat dan harus segera direalisasikan,” ujar Syafiuddin, Rabu 29 April 2026.
Ia mengungkapkan, sepanjang 2026 telah terjadi sejumlah insiden yang melibatkan taksi tersebut. Pada Januari, kendaraan dilaporkan mundur dan menabrak sebuah restoran. Kemudian pada Februari, taksi itu menabrak pembatas jalur busway di kawasan Ragunan.
Pada 3 April 2026 terjadi dua insiden sekaligus, yakni kendaraan menyangkut di pembatas jalan di Jagakarsa serta kecelakaan tunggal di flyover Pesing. Tidak lama kemudian, pada 14 April 2026, taksi tersebut kembali menabrak pembatas jalan di kawasan Kuningan.
“Rangkaian kejadian ini menunjukkan adanya persoalan serius, baik dari sisi teknis kendaraan, sistem operasional, maupun aspek keselamatan,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, kecelakaan tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur tersebut memakan korban 15 orang meninggal dan 91 orang mengalami luka-luka.

