Jakarta (tutur.co.id) —Â Sejumlah saham milik konglomerat kompak terkoreksi pada penutupan perdagangan Senin (27/4/2026), seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali berlanjut. Padahal, pada awal sesi, indeks sempat menguat lebih dari 1% sebelum akhirnya berbalik arah.
Berdasarkan data RTI Business, saham Grup Sinar Mas seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu yang paling tertekan, ambles 8,66% ke Rp1.845 per saham dari Rp2.110. Tekanan jual asing juga terlihat dengan net foreign sell mencapai Rp12,78 miliar.
Saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO), turut melemah 5,36% ke Rp5.300. Sementara itu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 4,17% ke Rp5.750, dengan aksi jual asing sebesar Rp4,16 miliar.
Tekanan juga menjalar ke saham properti milik konglomerat Aguan, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), yang turun tipis 0,59% ke Rp8.450 per saham.
Tak hanya saham konglomerasi, kelompok perbankan besar atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) juga kompak melemah. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,22% ke Rp4.400, diikuti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang terkoreksi 1,43% ke Rp1.380.
Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 1,33% ke Rp3.720, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 0,65% ke Rp3.050, serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang terkoreksi 2,13% ke Rp1.840. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga ikut melemah 1,24% ke Rp5.975.
IHSG sendiri ditutup turun 0,32% ke level 7.106,52, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 7.230,03. Sepanjang hari, volume perdagangan mencapai 33,17 miliar saham dengan nilai transaksi Rp16,57 triliun. Sebanyak 408 saham menguat, 264 melemah, dan 147 stagnan.
Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi IHSG dalam sepekan terakhir yang telah mencapai 6,42%. Sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp42,81 triliun—menjadi sinyal kuat tekanan eksternal dan meningkatnya sikap risk-off di pasar domestik.

