Jakarta (tutur.co.id) — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan kritik tajam terhadap stagnasi upaya pendalaman pasar modal Indonesia yang dinilai tak kunjung membuahkan hasil sejak awal 2000-an. Di tengah tekanan global dan volatilitas pasar domestik, ia menilai pendekatan yang digunakan selama ini belum menyentuh akar persoalan.
“Saya sudah dengar istilah pendalaman pasar modal sejak tahun 2000, sampai sekarang nggak dalam-dalam. Mungkin kita pakai cangkul yang salah,” ujar Purbaya dalam peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (Pintar) Reksa Dana di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/4/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan pemerintah terhadap struktur pasar modal Indonesia yang dinilai masih dangkal, tercermin dari likuiditas yang terbatas, dominasi investor jangka pendek, serta ketergantungan tinggi terhadap aliran dana asing. Kondisi ini membuat pasar rentan terhadap gejolak eksternal, seperti tekanan nilai tukar dan lonjakan harga komoditas global.
Secara historis, wacana pendalaman pasar modal telah menjadi agenda berulang sejak pasca krisis Krisis Keuangan Asia 1997-1998. Berbagai reformasi telah dilakukan, mulai dari peningkatan transparansi, penguatan regulasi, hingga digitalisasi akses investasi. Namun, dampaknya dinilai belum signifikan dalam memperluas basis investor dan memperdalam instrumen keuangan.
Pendalaman pasar modal sendiri mencakup upaya memperluas jumlah investor ritel dan institusi, meningkatkan variasi produk investasi, serta memperkuat likuiditas perdagangan. Tujuan akhirnya adalah menciptakan pasar yang lebih stabil, efisien, dan mampu menjadi sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian.
Dalam konteks kekinian, tantangan tersebut semakin kompleks. Gejolak geopolitik global, fluktuasi harga energi, hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah membuat investor cenderung bersikap hati-hati. Aliran dana asing yang mudah keluar masuk (hot money) kerap memperparah volatilitas indeks.
Purbaya mengisyaratkan bahwa pendekatan lama yang terlalu berfokus pada sisi teknis pasar perlu dievaluasi. Ia menekankan pentingnya memperkuat fundamental ekonomi sebagai fondasi utama.
“Yang jelas, dari pemerintah kita siapkan pondasi ekonomi yang baik. Membaik terus dari waktu ke waktu,” ujarnya.
Pernyataan ini juga mengindikasikan bahwa pendalaman pasar modal tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus berjalan seiring dengan stabilitas makroekonomi, reformasi struktural, serta peningkatan kepercayaan investor.
Dengan kata lain, kritik Purbaya bukan sekadar refleksi, tetapi juga sinyal bahwa pemerintah perlu merumuskan strategi baru yang lebih efektif—bukan hanya menggali lebih dalam, tetapi memastikan “alat gali” yang digunakan benar-benar tepat sasaran.

