Massachusetts (tutur.co.id) – Banyak orang mengira evolusi manusia sudah melambat atau bahkan berhenti sama sekali di era modern ini. Namun sebuah studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Nature justru menunjukkan hal sebaliknya. Dan salah satu temuan yang paling mencuri perhatian adalah meningkatnya individu dengan rambut merah.
Dilansir dari Live Science, sejatinya evolusi manusia masih aktif terjadi dalam 10.000 tahun terakhir ini. Hal itu ditandai dengan makin banyaknya populasi orang berambut merah. Penelitian ini menganalisis sekitar 16.000 genom manusia dari wilayah Eurasia Barat.
Dan dari data tersebut, ilmuwan menemukan hampir 500 gen mengalami perubahan akibat seleksi alam. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga daya tahan tubuh terhadap penyakit. Artinya, tubuh manusia terus beradaptasi mengikuti perubahan lingkungan dan ancaman baru.
Menariknya, evolusi tidak hanya “menambah” sifat tertentu, tetapi juga mengurangi yang lain. Studi ini menemukan peningkatan pada kulit cerah, rambut merah, serta resistensi terhadap HIV dan kusta.
Sebaliknya, risiko kebotakan pola pria dan rheumatoid arthritis justru menurun. Pola ini menunjukkan bahwa seleksi alam bekerja secara aktif memilih sifat yang paling menguntungkan bagi kelangsungan hidup.
Menurut peneliti dari Harvard University, Ali Akbari, banyak orang selama ini salah memahami evolusi manusia. Dengan kata lain, evolusi tetap berjalan, hanya saja sebelumnya belum terdeteksi dengan metode lama. Kini, dengan teknologi analisis DNA yang lebih canggih, perubahan kecil tersebut mulai terlihat jelas.
Meski begitu, peningkatan jumlah rambut merah masih menyisakan tanda tanya. Para ilmuwan menduga, warna rambut ini bukan faktor utama yang dipilih oleh evolusi. Bisa jadi, gen yang menyebabkan rambut merah berkaitan dengan adaptasi lain yang lebih penting. Hal ini menunjukkan bahwa evolusi tidak selalu bekerja secara sederhana atau langsung terlihat manfaatnya.
Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bahwa perubahan genetik bisa naik dan turun seiring waktu. Beberapa gen yang berkaitan dengan penyakit sempat meningkat, lalu menurun kembali dalam periode tertentu. Akbari menjelaskan, “This likely reflects changes in environment or selective pressures over time; for example, the introduction of new pathogens.” Artinya, munculnya penyakit baru bisa mengubah arah evolusi manusia secara signifikan.
Ke depan, para peneliti berencana memperluas studi ini ke wilayah lain di luar Eurasia Barat. Mereka ingin mengetahui apakah pola evolusi yang sama juga terjadi di populasi berbeda. Temuan ini membuka perspektif baru bahwa evolusi manusia masih terus berlangsung hingga sekarang. Jadi, perubahan kecil seperti rambut merah mungkin bukan sekadar variasi, tapi bagian dari proses panjang adaptasi manusia.

