Moskow (Tutur.co.id) – Upaya diplomatik untuk meredakan konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menemui jalan buntu. Rusia, melalui Presiden Vladimir Putin, sempat mengajukan usulan untuk mengambil alih uranium Iran yang diperkaya tinggi sebagai bagian dari solusi damai. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh Washington.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengungkapkan bahwa proposal tersebut diajukan beberapa waktu lalu dan dinilai sebagai langkah konstruktif untuk meredakan ketegangan.
“Ini adalah solusi yang sangat baik,” ujar Peskov dalam wawancara, seraya menambahkan bahwa pihak Amerika Serikat pada akhirnya tidak menerima usulan tersebut.
Meski demikian, Rusia disebut masih membuka kemungkinan untuk menghidupkan kembali gagasan tersebut jika diminta oleh pihak-pihak terkait.
Isu pemindahan uranium yang diperkaya tinggi memang menjadi salah satu tuntutan utama Washington dalam perundingan untuk mengakhiri konflik yang pecah sejak 28 Februari. Persediaan uranium Iran yang diperkirakan mencapai 450 kilogram dengan tingkat pengayaan 60 persen menjadi perhatian utama, terutama karena sebagian besar material tersebut kini berada di fasilitas nuklir yang telah menjadi target serangan.
Di sisi lain, pemerintah AS tetap bersikap tegas. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Iran harus menyerahkan stok tersebut.
“Iran akan menyerahkan secara sukarela atau kami akan mengambilnya dengan cara lain,” tegasnya.
Peskov juga menolak narasi yang digunakan untuk membenarkan konflik tersebut. Ia menegaskan bahwa Badan Energi Atom Internasional tidak pernah menemukan bukti bahwa Iran tengah mengembangkan senjata nuklir, sehingga tuduhan tersebut dinilai sebagai dalih. Lebih lanjut, Kremlin membantah keterlibatan langsung Rusia dalam konflik.
“Rusia tidak ikut serta dalam hal ini. Ini bukan perang kami,” kata Peskov.
Namun, pernyataan berbeda datang dari pihak Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut bahwa Moskow telah memberikan bantuan militer “dalam berbagai arah,” meski tidak merinci bentuk dukungan tersebut.
Di tengah perbedaan pernyataan itu, utusan AS Steve Witkoff sebelumnya menyampaikan bahwa Putin telah meyakinkan Donald Trump bahwa Rusia tidak membagikan data intelijen kepada Iran.

