Islamabad (tutur.co.id) – Marathon pertemuan antara delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran dengan mediator Pakistan harus berakhir dengan kegagalan. Paling tidak ada lima pembahasan utama dalam pertemuan selama hampir 24 jam tersebut.
“Berbagai aspek dari topik utama pembicaraan dibahas selama 24 jam terakhir, termasuk Selat Hormuz, isu nuklir, kompensasi militer, pencabutan sanksi, dan pengakhiran sepenuhnya perang melawan Iran dan kawasan,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, di akun X, Minggu 12 April 2026.
Delegasi Amerika Serikat yang dipimpin Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance dan delegasi Iran di bawah komando Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf datang ke Islamabad dengan masing-masing mengusung tuntutan tegas. Garis merah telah di tangan masing-masing delegasi. Hal itu yang membuat perundingan ini berjalan buntu.
Pertama, terkait dengan program nuklir Iran, delegasi AS menuntut tegas Iran tak boleh mengembangkan senjata pemusnah peradaban itu. Namun Iran menolak syarat tersebut karena dianggap melanggar kedaulatan dan terlalu membatasi. Apalagi dengan ancaman AS yang notabene-nya juga pemilik senjata nuklir.
Perbedaan mencolok lainnya terkait sanksi ekonomi yang selama ini Iran terima. Iran tegas menuntut pencabutan sanksi secara cepat dan luas. Namun AS ingin pencabutan sanksi dilakukan secara longgar dengan syarat kepatuhan dari Iran.
Ketiga terkait kendali Selat Hormuz. AS melihat Iran sebagai ancaman stabilitas Kawasan dengan keuntungan geografis di Kawasan tersebut. Mereka mendesak Iran berbagi kendali di jalur vital perdagangan dunia tersebut. Namun Iran melihat AS terlalu banyak ingin intervensi di kawasan tersebut.
Hal selanjutnya terkait dengan kompensasi agresi militer AS dan Israel yang juga menjadi tuntutan Iran. Kompensasi Iran sendiri diringkas menjadi tiga layer yakni reparasi perang, biaya rekonstruksi dan pencairan asset yang dibekukan akibat sanksi. Namun AS menganggap itu sebagai tuntutan yang berlebihan.
Terakhir, tentang tuntutan untuk mengakhiri perang sepenuhnya. Namun faktanya, bahkan saat terjadi pertemuan di Pakistan ini dan masa gencatan senjata, Israel yang menjadi sekutu AS justru masih menyerang wilayah Lebanon. Hal ini yang membuat delegasi Iran murka.

