Jakarta (tutur.co.id) — Danantara Indonesia memastikan tetap aktif berinvestasi di pasar saham domestik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah mengalami volatilitas akibat ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan gejolak tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda pasar saham global.
“Saya rasa semua market sekarang lagi ngalamin masalah karena soal perang, jadi bukan hanya Indonesia, semua market,” ujar Pandu di Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan pihaknya tetap aktif memantau pasar dan mencari peluang investasi dengan potensi imbal hasil terbaik.
“Tentu kita akan melihat best return. Kita selalu aktif di market dan terus berkomunikasi,” tambahnya.
Dalam menentukan pilihan investasi, Danantara akan fokus pada saham-saham dengan prospek bisnis yang cerah, fundamental kuat, serta tingkat likuiditas yang baik.
“Perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek yang baik, fundamental yang baik, likuiditas yang baik, tentu kita akan lihat,” jelas Pandu.
Di tengah tekanan global, Danantara juga telah menyiapkan dana khusus untuk berinvestasi di pasar saham Indonesia. Investasi tersebut akan dijalankan melalui sejumlah manajer investasi (MI) yang berada di bawah koordinasi mereka.
“Nanti kita kerja sama dengan MI. Kita lewat beberapa MI, mereka yang akan melakukan itu. Tapi kita sudah mencadangkan dana untuk berinvestasi di pasar saham,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, PT Danantara Asset Management (DAM) pada 1 April 2026 telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atas sejumlah perusahaan manajer investasi. Di antaranya adalah PT BNI Aset Manajemen, PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, serta PT PNM Investment Management.
Sementara itu, berdasarkan data penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026), IHSG ditutup melemah 18,40 poin atau 0,26 persen ke level 6.971,03. Indeks LQ45 juga turun 6,10 poin atau 0,86 persen ke posisi 701,66.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan frekuensi mencapai 1,76 juta transaksi. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 27,16 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp13,48 triliun. Sebanyak 250 saham menguat, 407 saham melemah, dan 158 saham stagnan.

