Jakarta (tutur.co.id) — Harga emas dunia kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan awal pekan ini, didorong oleh pelemahan data ketenagakerjaan Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Kondisi tersebut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah ekspektasi penurunan suku bunga acuan.
Harga emas dunia melanjutkan tren penguatan dan menorehkan rekor baru pada perdagangan Senin (12/1/2026). Pada pukul 07.02 WIB, harga emas di pasar spot tercatat di level US$4.543 per troy ons, menguat 0,72% dibandingkan penutupan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sepanjang sejarah.
Penguatan ini memperpanjang performa gemilang emas yang telah terbang tinggi sepanjang 2025. Dalam setahun terakhir, harga logam mulia tersebut tercatat melonjak lebih dari 65%, mencerminkan meningkatnya minat investor global terhadap aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Dari sisi fundamental, kenaikan harga emas kali ini ditopang oleh rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar. US Bureau of Labor Statistics melaporkan penciptaan lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada Desember 2025 hanya mencapai 56.000, lebih rendah dibandingkan konsensus pasar di kisaran 60.000.
Data tersebut mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja AS belum sepenuhnya solid, sehingga membuka ruang bagi bank sentral AS, Federal Reserve, untuk melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter. Penurunan suku bunga acuan cenderung menguntungkan emas, mengingat emas merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset).
Gubernur The Fed Richmond Tom Barkin menilai data ketenagakerjaan terbaru mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang moderat. “Tingkat pengangguran naik tahun lalu, dan pertumbuhan lapangan kerja moderat saja,” ujar Barkin, dikutip dari Bloomberg News. Ia juga menambahkan bahwa aktivitas rekrutmen ke depan masih berpotensi rendah.
Berdasarkan proyeksi dot plot The Fed edisi Desember 2025, bank sentral AS diperkirakan hanya akan memangkas Federal Funds Rate satu kali sepanjang 2026. Namun demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali, seiring meningkatnya sinyal perlambatan ekonomi.
Selain faktor moneter, sentimen geopolitik turut menjadi katalis utama penguatan harga emas. Situasi politik di Iran dilaporkan memanas setelah gelombang demonstrasi meluas di negara tersebut. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa AS tidak akan tinggal diam apabila pemerintah Iran menggunakan kekerasan untuk meredam aksi demonstrasi.
Pernyataan tersebut mendapat respons keras dari Teheran. Ketua DPR Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa setiap serangan AS akan menjadikan wilayah Amerika sebagai target yang sah. Eskalasi ketegangan ini meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai safe haven asset, terutama di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
Bagi investor, kombinasi antara ekspektasi pelonggaran moneter dan ketidakpastian geopolitik memperkuat peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan pelindung nilai terhadap volatilitas pasar keuangan.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, pergerakan emas pada daily time frame masih berada di zona bullish. Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 66, menandakan momentum penguatan masih dominan. Sementara itu, Stochastic RSI 14 hari berada di level 51, menunjukkan kondisi yang relatif netral.
Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek. Level pivot point berada di area US$4.535 per troy ons. Apabila harga menembus ke bawah level tersebut, emas berisiko menguji area support di US$4.506 per troy ons yang berdekatan dengan Moving Average (MA) 5, diikuti support lanjutan pada MA-10 di kisaran US$4.447 per troy ons.
Sebaliknya, apabila tren penguatan berlanjut, level psikologis US$4.550 per troy ons menjadi area resistensi terdekat. Penembusan di atas level tersebut berpotensi membuka ruang kenaikan lanjutan menuju kisaran US$4.560–4.577 per troy ons.
Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, sehingga investor disarankan untuk mengelola risiko secara disiplin dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.

