Jakarta (tutur.co.id) — Langkah agresif pemerintah dalam mengelola pembiayaan utang mulai membuahkan hasil. Setelah sempat mengalami tekanan, pasar Surat Utang Negara (SUN) kini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, ditopang strategi penerbitan yang lebih terukur dari Kementerian Keuangan.
Kebijakan yang dikomandoi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terbukti mampu meredam lonjakan imbal hasil (yield) yang sebelumnya mendekati 6,85% pada akhir Maret 2026.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai strategi penjadwalan ulang suplai dan pengelolaan lelang yang lebih disiplin menjadi kunci utama menjaga stabilitas pasar obligasi dalam jangka pendek.
“Yield SUN kini relatif stabil. Tenor pendek berada di kisaran 5,3–5,8%, tenor menengah 6,1–6,6%, dan tenor acuan 10 tahun sekitar 6,62%, turun dari level 6,85% pada akhir Maret,” ujar Yusuf.
Perbaikan ini menunjukkan bahwa pasar masih mampu menyerap tambahan pasokan obligasi tanpa tekanan berarti. Stabilitas tersebut juga tidak lepas dari peran dominan investor domestik seperti perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun yang menjadi penopang utama pasar.
Menurut Yusuf, kondisi likuiditas perbankan yang masih longgar turut menjaga daya tarik Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini tercermin dari rasio bid-to-cover yang tetap solid, berada di kisaran dua kali atau lebih.
“Likuiditas perbankan yang masih longgar membuat SBN tetap menarik. Bid-to-cover juga masih solid,” jelasnya.
Di sisi lain, minat investor asing mulai menunjukkan pemulihan, meski masih bersifat selektif. Masuknya dana asing dinilai sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah serta arah kebijakan suku bunga global.
“Asing masuk secara selektif dan oportunistik. Kepemilikan asing masih rendah, sehingga ada ruang naik, terutama jika yield mendekati 7%,” kata Yusuf.
Ke depan, pemerintah dijadwalkan menggelar lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada 7 April 2026 dengan target indikatif Rp12 triliun. Yusuf memperkirakan lelang tersebut akan berjalan sukses dan berpotensi mengalami kelebihan permintaan.
“Target Rp12 triliun relatif moderat dan diuntungkan oleh kebijakan sebelumnya yang sudah meredam tekanan. Sangat mungkin tercapai, bahkan oversubscribed,” ujarnya.
Ia menambahkan, instrumen tenor pendek seperti SPN-S diperkirakan tetap menjadi favorit investor karena menawarkan likuiditas tinggi dengan risiko durasi yang lebih rendah.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa stabilitas yang tercipta saat ini masih bersifat jangka pendek. Risiko eksternal, seperti gejolak pasar global dan arah kebijakan moneter dunia, tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
“Untuk saat ini, kebijakan pemerintah berhasil menahan gejolak. Namun sifatnya lebih ke menjaga stabilitas jangka pendek. Tantangan global masih perlu diwaspadai,” pungkasnya.

