Jakarta (tutur.co.id) — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan 6–10 April 2026 diperkirakan tidak akan mudah. Tekanan eksternal dan domestik menjadi kombinasi yang menantang, terutama dari lonjakan harga minyak dunia serta pelemahan nilai tukar Rupiah.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai kondisi ini menjadi ujian berat bagi stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek.
“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis,” ujar David dalam risetnya.
Ia menjelaskan, apabila harga minyak mentah bertahan di atas level US$100 per barel, maka tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin besar. Beban subsidi energi berpotensi membengkak dan berisiko mendorong defisit fiskal mendekati batas aman.
Di sisi lain, pelemahan Rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS turut memperparah kondisi. Kenaikan biaya impor bahan baku dinilai dapat memicu inflasi domestik dan menekan daya beli masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, IHSG diproyeksikan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance pada 7.250. Sentimen negatif juga datang dari penyesuaian komposisi kepemilikan saham atau high shareholding composition, sejalan dengan metodologi MSCI yang telah diantisipasi pelaku pasar.
Meski pasar dibayangi tekanan, peluang tetap terbuka. IPOT merekomendasikan tiga saham yang dinilai memiliki potensi menarik di tengah volatilitas pasar.
Saham PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) dinilai memiliki prospek cerah seiring wacana program B50 yang berpotensi menjadi katalis sektor perkebunan. Secara teknikal, saham ini menunjukkan ketahanan dengan pergerakan stabil di atas MA5 serta sinyal bullish dari indikator MACD.
Selanjutnya, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mampu bertahan di area support kuat. Peningkatan volume transaksi menjadi indikasi awal kembalinya minat beli dan membuka peluang rebound.
Adapun PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mendapat dorongan positif dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berpotensi meningkatkan konsumsi protein hewani nasional. Secara teknikal, saham ini menunjukkan momentum penguatan dan berpeluang melanjutkan tren bullish apabila berhasil menembus MA50.
Dengan berbagai dinamika tersebut, investor disarankan tetap selektif dan mencermati perkembangan sentimen global maupun domestik yang berpotensi mempengaruhi arah pasar dalam waktu dekat.

