Washington (tutur.co.id)— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim perang dengan Iran dapat berakhir dalam hitungan hari, bukan minggu, sembari melontarkan ancaman keras terhadap Teheran. Dalam pernyataan yang dikutip media internasional seperti ABC News dan Fox News pada Minggu 5 April 2026, Trump menegaskan bahwa operasi militer AS hampir mencapai tahap akhir.
“Saya pikir ada peluang besar besok — mereka sedang bernegosiasi sekarang,” ujar Trump merujuk pada proses pembicaraan yang disebut tengah berlangsung antara kedua pihak.
Trump menambahkan bahwa negosiasi saat ini melibatkan utusan khusus Amerika Serikat, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang disebut sedang melakukan pembicaraan intensif dengan perwakilan Iran. Namun, ia juga mengaitkan peluang kesepakatan tersebut dengan ultimatum keras, dengan menyatakan bahwa jika tidak ada hasil dalam waktu dekat, maka opsi eskalasi militer tetap terbuka.
Trump menyatakan bahwa konflik bisa segera diselesaikan dalam waktu sangat singkat, namun memperingatkan bahwa jika tidak ada hasil sesuai keinginan Washington, maka opsi militer ekstrem tetap terbuka.
Trump bahkan mengancam akan “menghancurkan seluruh negara” jika Iran tidak memenuhi tuntutan, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan perkembangan negosiasi.
“Kalian akan melihat jembatan dan pembangkit listrik dihancurkan di seluruh negeri mereka. Kalau mereka tidak segera membuat kesepakatan, saya mempertimbangkan untuk menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyaknya,” kata Trump.
Sebelumnya, Trump juga beberapa kali menyampaikan target waktu berbeda, mulai dari “dua hingga tiga minggu” hingga klaim bahwa perang sudah hampir selesai, menunjukkan perubahan narasi dalam strategi komunikasi pemerintah AS.
Sejumlah laporan menyebut bahwa ancaman terbaru ini juga mencakup kemungkinan serangan terhadap infrastruktur vital Iran seperti pembangkit listrik dan fasilitas energi.
Pernyataan Trump ihwal “akan menyerang habis Iran” memicu reaksi beragam di dalam negeri AS, dengan sejumlah politisi menilai retorika tersebut berisiko memperluas konflik dan meningkatkan ketidakpastian global.
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap menolak tekanan tersebut dan terus melancarkan serangan balasan ke berbagai target militer dan strategis di kawasan.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda konkret bahwa konflik akan segera berakhir, sementara ketegangan justru terus meningkat di berbagai titik kawasan Timur Tengah. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) malah mengumumkan peluncuran gelombang ke-96 dari operasi militer “True Promise 4” sebagai respons atas serangan terhadap Jembatan B1 di Karaj dan fasilitas petrokimia di Mahshahr. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media pemerintah Iran, termasuk Press TV, pada Minggu, 5 April 2026, di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan.

