Jakarta (tutur.co.id) — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan membangun kawasan tambak udang terintegrasi di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan nilai investasi mencapai Rp7,2 triliun.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan proyek ini akan dikembangkan di atas lahan seluas kurang dari 2.150 hektare. Kawasan tersebut dirancang sebagai model percontohan (benchmark) budidaya udang modern yang terintegrasi dari hulu hingga hilir serta berkelanjutan secara lingkungan.
Konsep yang digunakan adalah Budidaya Udang Terpadu (Integrated Shrimp Farming/ISF), mencakup pembangunan fasilitas lengkap mulai dari sistem pengambilan air laut, tandon, kolam budidaya, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga infrastruktur pendukung lainnya.
“Total pendanaannya mencapai Rp7,2 triliun, termasuk untuk manajemen konstruksi dan pembangunan fisik kawasan,” ujar Haeru dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Dari total anggaran tersebut, sekitar Rp6,1 triliun berasal dari pinjaman luar negeri melalui skema kredit swasta asing (KSA), sementara Rp1,1 triliun berasal dari rupiah murni pendamping (RMP).
Awalnya, proyek ini ditargetkan rampung dalam tiga tahun. Namun, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan didorong untuk dipercepat menjadi dua tahun.
Saat ini, progres pembangunan telah memasuki tahap awal berupa pembentukan petak-petak tambak.
Libatkan Swasta dari Hulu hingga Hilir
KKP menekankan bahwa keberhasilan proyek ini membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Pemerintah pusat bertanggung jawab atas pembangunan fisik kawasan dan penyediaan sumber daya manusia (SDM), sementara pemerintah daerah memastikan kesiapan lahan dan dukungan tenaga kerja lokal.
Adapun sektor swasta didorong untuk berperan dalam rantai pasok, baik di sisi hulu maupun hilir. Pada sektor hulu, peluang terbuka untuk penyediaan benih dan pakan udang. Sedangkan di hilir, investor dapat masuk ke sektor pengolahan, pabrik es, hingga cold storage.
Untuk menarik minat investor, pemerintah juga menjanjikan kemudahan perizinan dan dukungan infrastruktur melalui koordinasi lintas kementerian, termasuk sektor transportasi dan pelabuhan.
Dorong Ekonomi Lokal dan Serap Ribuan Tenaga Kerja
Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menyebut proyek ini akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian daerah.
Investasi tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 8.820 tenaga kerja dan menghasilkan produksi udang mencapai 52.000 ton per tahun.
Selain itu, proyek ini berpotensi meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumba Timur hingga 34,7%. Pada fase operasional, PDRB diproyeksikan naik dari Rp7,8 triliun menjadi Rp10,5 triliun.
Nilai ekonomi dari produksi udang diperkirakan mencapai Rp3,38 triliun per tahun, dengan potensi devisa sebesar US$285 juta dari ekspor.
Tak hanya itu, perputaran upah lokal diperkirakan mencapai Rp260 miliar per tahun dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan lebih dari 35 ribu jiwa.
“Dampak sosialnya juga besar, termasuk potensi menurunkan kemiskinan hingga 55% dari penduduk miskin di wilayah tersebut,” ujar Nyoman.

