Abu Dhabi (Tutur.co.id) – Uni Emirat Arab dilaporkan menyatakan kesiapan untuk mendukung Amerika Serikat dan sekutunya dalam upaya membuka Selat Hormuz secara paksa, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk.
Laporan The Wall Street Journal yang mengutip sejumlah pejabat Arab menyebutkan bahwa UEA bahkan telah melobi Dewan Keamanan PBB agar mengesahkan resolusi yang dapat memberikan legitimasi terhadap langkah tersebut.
Tak hanya itu, UEA juga mendorong pembentukan koalisi internasional yang melibatkan negara-negara Barat dan Asia untuk melakukan operasi pembukaan jalur pelayaran dengan kekuatan militer. Dalam skenario tersebut, UEA mempertimbangkan keterlibatan langsung, termasuk dalam operasi pengamanan jalur dan pembersihan ranjau di perairan strategis tersebut.
Laporan tersebut juga menyebut bahwa UEA menilai langkah lebih jauh perlu dipertimbangkan, termasuk kemungkinan pendudukan pulau-pulau yang dikuasai Iran di Selat Hormuz, seperti Pulau Abu Musa, guna memastikan jalur pelayaran tetap terbuka.
Situasi ini berkembang setelah eskalasi konflik sejak akhir Februari 2026, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut memicu respons balasan dari Iran yang menargetkan wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi tersebut berdampak langsung pada Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan terhadap jalur ini memicu blokade de facto yang berimbas pada terganggunya ekspor energi dari kawasan Teluk.
Akibatnya, harga energi global mengalami kenaikan signifikan, mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika keamanan di salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

