Tokyo (Tutur.co.id) – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato penting di hadapan para pengusaha Jepang yang hadir dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin 30 Maret 2026. Redaksi mencoba merangkum poin-poin penting pidato yang disampaikan Prabowo di forum tersebut.
“Jepang adalah mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Hubungan ekonomi kita telah dibangun selama beberapa dekade, dengan partisipasi yang sangat kuat dari perusahaan-perusahaan Jepang di berbagai sektor ekonomi kita,” kata Prabowo pidatonya.
Prabowo juga mengatakan bahwa Jepang secara konsisten mendukung pembangunan ekonomi Indonesia. Dan masih menurut Prabowo, banyak pengusaha Jepang yang sangat mengenal Indonesia dengan baik termasuk terkait pasar, budaya hingga potensi yang dimiliki.
“Anda pasti juga tahu bahwa Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang Anda kenal mungkin 20 atau 25 tahun yang lalu,” kata Prabowo dalam pidatonya.
Dalam pidato panjangnya di Imperial Hotel Tokyo itu, Presiden Prabowo membeberkan beberapa poin penting. Pertama terkait, komitmen investasi nyata dan transparan dimana Indonesia saat ini menawarkan kemitraan yang nyata, transparan, dan menguntungkan.
Beliau menekankan pendekatan yang praktis dan pragmatis dalam setiap proyek kerja sama. Mulai dari sisi kelayakan proyek, pemberantasan korupsi hingga sovereign wealth fund (SWF) atau penguatan manajemen guna meningkatkan efisiensi dan transparansi investasi global.
Poin kedua dalam pidato Prabowo terkait Jepang sebagai mitra strategis Utama Indonesia. Presiden Prabowo memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas investasi Jepang yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Mulai dari kualitas investasi Jepang, kemitraan yang naik kelas hingga transfer teknologi.
Yang ketiga, Presiden Prabowo juga membeberkan sektor strategis dan prioritas ekonomi yang dibangun Indonesia dan Jepang. Mulai dari energi hijau dan transisi energi, hilirisasi industri hingga teknologi dan digitalisasi.
Pidato Presiden Prabowo di Tokyo menandai babak baru dalam diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan menekankan bahwa “Indonesia saat ini bukan lagi Indonesia 20-25 tahun lalu”, beliau mengirimkan sinyal kuat kepada dunia usaha Jepang bahwa Indonesia siap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang kredibel dan berorientasi pada hasil nyata.

