Jakarta (tutur.co.id) — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan bahan baku nabati untuk program campuran etanol 20% (E20) masih mencukupi, meskipun membutuhkan percepatan penanaman kembali komoditas pendukung.
Program E20 menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis bensin. Bahan baku etanol berasal dari komoditas nabati seperti tebu, singkong, jagung, hingga kelapa sawit.
“Sudah pasti cukup. Kita tanam. Kita akan tanam sekarang. Penanaman tebu, penanaman singkong, penanaman sawit,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, potensi bahan baku etanol di dalam negeri sangat besar. Indonesia saat ini bahkan mengekspor molases atau tetes tebu hingga 3 juta ton, yang berpotensi diolah menjadi etanol dalam jumlah signifikan.
“Ini bisa dijadikan dan bisa meng-etanol 300 ribu,” katanya.
Amran menambahkan, pengembangan bahan bakar berbasis nabati di Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih maju. Ia mencontohkan Brasil yang telah berhasil menerapkan campuran etanol hingga 27% (E27), sementara Indonesia menargetkan implementasi E20 pada 2028.
Seiring perkembangan teknologi, produsen otomotif juga telah mengembangkan mesin Flexible Fuel Vehicle (FFV) yang mampu menggunakan berbagai jenis bahan bakar, mulai dari bensin, etanol, hingga campurannya.
“Arahan Bapak Presiden ini tidak boleh putus. Kalau konsisten 10 tahun, kita bisa mandiri. Karena etanol ini bisa dengan engine-nya fleksibel,” ujarnya.
Selain etanol, pemerintah juga memastikan ketersediaan bahan baku biodiesel berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) untuk program B40. Produksi CPO nasional dinilai mencukupi untuk mendukung substitusi solar hingga 40%.
Kinerja ekspor CPO juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekspor tercatat mencapai 32 juta ton atau meningkat sekitar 6 juta ton dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh harga global yang menguat serta peningkatan produksi petani.
Amran menyebut capaian tersebut tidak lepas dari kebijakan strategis Prabowo Subianto dalam mendorong sektor pangan dan energi.
“Karena harga naik dunia, petani berproduksi. Surplus 6 juta ton. Jadi hebat kebijakan,” ujarnya.
Untuk memperkuat implementasi program substitusi BBM berbasis nabati, Kementerian Pertanian juga menggandeng berbagai BUMN melalui koordinasi dengan Badan Pengelola BUMN. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat swasembada energi nasional.
Menurut Amran, sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. “Pangan selesai, kita beralih ke energi,” katanya.
Dengan dukungan bahan baku yang melimpah dan kolaborasi antar lembaga, pemerintah optimistis Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

