Jakarta (tutur.co.id) — Bandung kembali mencuri perhatian pelancong Asia. Kota berjuluk Paris van Java itu menembus tiga besar destinasi wisata paling populer di Asia versi laporan New Horizons Agoda. Di saat yang sama, Bandar Lampung dan Garut menunjukkan geliat senyap namun pasti—menjadi simbol pergeseran selera wisatawan yang kini lebih mencari ruang, alam, dan ketenangan.
Bandung berhasil menempatkan diri di jajaran tiga besar destinasi wisata paling populer di Asia, berdasarkan pemeringkatan New Horizons terbaru dari platform perjalanan digital Agoda. Dalam laporan tahunan yang membandingkan data pemesanan akomodasi selama dua tahun terakhir itu, Bandung bersanding dengan destinasi-destinasi yang tengah naik daun di kawasan Asia.
Secara regional, Sapa di Vietnam menempati posisi teratas sebagai destinasi dengan pertumbuhan minat perjalanan internasional paling signifikan. Kawasan pegunungan yang sejuk itu diikuti oleh Okayama (Jepang), Bandung (Indonesia), Matsuyama (Jepang), dan Takamatsu (Jepang). Daftar ini mencerminkan perubahan preferensi wisatawan Asia yang kian menjauh dari destinasi superpadat menuju kota-kota dengan ritme lebih manusiawi.
“Kami melihat adanya pergeseran dalam cara wisatawan memilih destinasi liburan,” ujar Gede Gunawan, Senior Country Director of Agoda for Indonesia, Kamis (8/1/2026). Menurutnya, wisatawan kini semakin mencari tempat dengan ruang terbuka, udara segar, dan suasana yang lebih santai—kriteria yang banyak dipenuhi oleh kota-kota sekunder.
Tren itu terlihat jelas di Indonesia. Selain Bandung yang mencuat di level Asia, Bandar Lampung tercatat sebagai destinasi dengan pertumbuhan tercepat untuk menarik wisatawan mancanegara. Kota di ujung selatan Sumatra ini melonjak dari peringkat ke-34 ke posisi 28 dalam daftar Agoda.
Daya tarik Lampung bukan semata pantai dan lanskap alamnya yang masih relatif alami. Popularitas bayi gajah bernama Nisa dari Taman Nasional Way Kambas yang viral di media sosial turut menjadi magnet tersendiri. Di balik viralitas itu, Lampung menawarkan kekayaan budaya, ragam kuliner khas, serta pengalaman wisata alam yang belum terlampau padat.
Di tingkat domestik, Garut muncul sebagai destinasi dengan pertumbuhan tertinggi bagi wisatawan Indonesia. Kabupaten yang kerap dijuluki “Swiss-nya Jawa Barat” ini naik dari peringkat 40 ke 34. Daya tariknya terletak pada lanskap pegunungan, kawah vulkanik, danau yang tenang, hingga air terjun yang tersembunyi. Udara sejuk dan nuansa lokal yang kuat menjadikan Garut alternatif bagi wisatawan yang ingin menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kota besar.
Sementara itu, untuk perjalanan ke luar negeri, Shenzhen di Tiongkok menjadi destinasi outbound dengan pertumbuhan tercepat bagi wisatawan Indonesia. Kota ini melonjak dari peringkat 44 ke 35. Kebijakan bebas visa mempermudah akses, sementara perpaduan modernitas, pusat belanja, kuliner beragam, dan sentuhan alam menjadikan Shenzhen menarik bagi wisatawan urban Indonesia.
Laporan New Horizons Agoda menunjukkan bahwa pariwisata Asia tengah bergerak ke fase baru. Wisatawan tidak lagi semata-mata mengejar destinasi ikonik, melainkan pengalaman yang lebih personal dan berkelanjutan. Kota-kota seperti Bandung, Lampung, dan Garut menjadi contoh bagaimana destinasi dengan karakter lokal yang kuat justru semakin relevan di tengah kejenuhan terhadap pariwisata massal.
Melalui platform digital, wisatawan kini lebih mudah menjelajahi pilihan-pilihan tersebut. Agoda, menurut Gede, menyediakan lebih dari enam juta akomodasi, 130.000 rute penerbangan, serta ratusan ribu aktivitas wisata untuk mendukung rencana perjalanan sepanjang 2026.
Di balik angka-angka pertumbuhan itu, tersirat satu pesan sederhana: pariwisata bukan lagi tentang sejauh apa orang pergi, melainkan seberapa bermakna pengalaman yang mereka temukan.

