Tromsø (tutur.co.id) – Di Tromsø, konsep siang dan malam bukan lagi sesuatu yang pasti. Kota kecil di utara Norwegia ini berada di Lingkar Arktik—wilayah yang akrab dengan fenomena ekstrem: matahari tak terbenam di musim panas, dan tak pernah terbit di musim dingin. Di tengah lanskap yang tak biasa itu, umat Muslim menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan cara yang tak kalah unik.
Ketika ramadan dan idulfitri jatuh pada musim panas, Tromsø mengalami midnight sun—matahari bersinar hampir 24 jam nonstop. Langit tetap terang bahkan saat tengah malam. Dalam kondisi ini, penentuan waktu puasa menjadi problem tersendiri. Sebab, patokan klasik—terbit dan terbenamnya matahari—tidak lagi relevan.
Solusinya, komunitas Muslim di Tromsø mengacu pada waktu kota lain yang memiliki siklus normal, atau mengikuti waktu di Mekkah. Dengan cara ini, waktu sahur dan berbuka tetap terukur, meski secara visual langit tidak pernah gelap. Akibatnya, ada momen ketika azan magrib berkumandang saat matahari masih tinggi—sebuah pengalaman yang terasa janggal bagi mereka yang terbiasa dengan ritme tropis.
Sebaliknya, jika ramadan dan idulfitri datang di musim dingin (September-Maret) seperti tahun ini, Tromsø memasuki fase polar night. Matahari tak muncul sama sekali selama berminggu-minggu. Tantangan pun berbalik: bukan lagi menahan lapar di bawah terang yang tak berujung, tetapi menjalani ibadah dalam gelap yang panjang dan sunyi. Suasana syahdu idulfitri di Tromsø diwarnai dengan pemandangan langit indah berhias aurora borealis (cahaya utara). Aurora borealis adalah fenomena alam berupa pancaran cahaya menari-nari berwarna hijau, ungu, atau merah di langit malam kutub utara. Ini terjadi akibat interaksi antara partikel bermuatan matahari (angin surya) dengan medan magnet dan gas atmosfer bumi.
Lalu bagaimana dengan Lebaran? Di tengah kondisi ekstrem itu, Idulfitri tetap dirayakan. Komunitas Muslim yang kecil—terdiri dari imigran berbagai negara—biasanya berkumpul di masjid atau pusat komunitas. Salat Id dilaksanakan sederhana, lalu dilanjutkan dengan tradisi saling berkunjung dan berbagi makanan.
Secara visual, Lebaran di Tromsø bisa terasa ganjil. Jika jatuh di musim panas, perayaan berlangsung di bawah langit yang terus terang—tanpa nuansa pagi atau sore. Namun justru di situ letak maknanya: Lebaran tidak bergantung pada lanskap alam, melainkan pada rasa kebersamaan. Di kota yang tak mengenal malam, umat Muslim tetap menemukan cara merayakan hari kemenangan—dengan ritme, tafsir, dan kehangatan mereka sendiri.

