Jakarta (tutur.co.id) – Tiga prajurit penjaga perdamaian Indonesia dilaporkan gugur dalam waktu 48 jam saat menjalankan misi di Lebanon bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Salah satu korban, Kadet Farizal Rambi, meninggal pada Minggu (29/3/2026) setelah ledakan terjadi di dalam pangkalan UNIFIL di Tayeb, Lebanon selatan. Sehari kemudian, dua prajurit lainnya tewas ketika sebuah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di Bani Hayan, Sektor Timur. Insiden tersebut juga menyebabkan dua penjaga perdamaian lainnya terluka, satu di antaranya dalam kondisi serius dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Beirut.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan tengah meninjau insiden tersebut, sambil mengonfirmasi bahwa pasukannya memang beroperasi di wilayah sekitar untuk menargetkan pejuang Hezbollah yang diduga tengah menyiapkan serangan mortir. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga membuka penyelidikan untuk menentukan asal ledakan. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) PBB untuk Operasi Penjaga Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix menyatakan pihaknya sangat mengecam insiden tersebut dan menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran dalam konflik bersenjata.
