Kairo (tutur.co.id) – Lebaran di Mesir tidak hanya dirayakan sebagai momen keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi Islam dan warisan peradaban kuno. Di balik suasana Idulfitri, tersimpan satu simbol yang bertahan lintas zaman: kahk—kue khas yang tak pernah absen dari meja perayaan.
Di setiap rumah, aneka kue disiapkan untuk menyambut hari kemenangan. Tradisi ini tidak sekadar soal hidangan, tetapi juga cerminan identitas budaya. Menariknya, masyarakat Mesir kerap menyebut seluruh kue Lebaran dengan istilah kahk el-Eid, yang menunjukkan betapa dominannya posisi kahk dalam perayaan ini.
Beberapa kue khas yang hampir selalu hadir saat Lebaran di Mesir antara lain:
-
Kahk (kahk el-Eid): Kue paling ikonik, berbentuk bulat kecil dengan taburan gula halus. Memiliki berbagai isian seperti ajwa (pasta kurma), malban (permen kenyal), hingga kacang-kacangan.
-
Guraibah: Kue bertekstur sangat lembut dan rapuh, hampir meleleh di mulut. Biasanya dibuat dari campuran mentega, gula, dan tepung.
-
Petit four: Kue kecil berwarna-warni yang dihias cokelat atau selai, mencerminkan pengaruh Eropa dalam tradisi kuliner Mesir modern.
-
Biskuit Lebaran: Beragam bentuk dan rasa, sering dihias sederhana, menjadi pelengkap hidangan utama saat silaturahmi.
Tradisi membuat kue-kue ini dilakukan menjelang Lebaran. Keluarga berkumpul di dapur, menyiapkan adonan, mencetak, hingga memanggang bersama. Aktivitas ini menjadi ritual sosial yang mempererat hubungan antaranggota keluarga sekaligus menjaga kesinambungan tradisi.

Yang membuat kahk menonjol dibanding kue lainnya adalah akar sejarahnya. Sejumlah temuan arkeologis menunjukkan bahwa kue serupa telah dikenal sejak Zaman Firaun. Relief kuno bahkan menggambarkan proses pembuatan kue untuk keperluan ritual, dengan bentuk yang tidak jauh berbeda dari kahk masa kini.
Seiring masuknya Islam ke Mesir, tradisi ini tidak hilang, melainkan beradaptasi. Kahk kemudian menjadi bagian dari Idulfitri, menjembatani warisan kuno dengan praktik keagamaan modern. Ia menjadi simbol bagaimana budaya dapat bertahan dengan menyesuaikan diri terhadap perubahan zaman.
Pada akhirnya, Lebaran di Mesir bukan hanya tentang ibadah dan silaturahmi. Ia juga tentang ingatan kolektif yang terus hidup. Dari dapur sederhana hingga meja perayaan, kahk dan kue-kue lainnya menjadi penanda bahwa tradisi, jika dirawat, mampu melampaui waktu.

