Jakarta (tutur.co.id) – Menjelang Idulfitri, berbagai tradisi khas masyarakat Indonesia kembali bermunculan. Selain mudik, berburu takjil, dan buka bersama, kebiasaan membeli baju baru juga menjadi bagian yang sulit dipisahkan.
Fenomena ini semakin terlihat dari tingginya aktivitas belanja masyarakat, baik di pusat perbelanjaan maupun pasar tradisional. Antusiasme publik bahkan terlihat dari ramainya kawasan seperti Pasar Tanah Abang di Jakarta serta viralnya antrean pembelian busana muslim dari brand tertentu.
Tradisi ini kian menguat seiring dengan hadirnya tunjangan hari raya (THR), yang kerap dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi menjelang Lebaran.
Dalam perspektif budaya, baju baru saat Lebaran tidak sekadar soal penampilan. Banyak masyarakat memaknainya sebagai simbol pembaruan diri setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan.
Pakaian menjadi representasi visual dari kondisi “bersih” dan “baru” saat merayakan hari kemenangan. Hal ini menjadikan baju baru seolah menjadi bagian penting dari perayaan Idulfitri.
Namun dalam praktiknya, makna simbolik tersebut sering kali bergeser. Baju baru tidak lagi sekadar kebutuhan, melainkan menjadi bagian dari standar sosial yang tidak tertulis.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari faktor sosial. Dalam banyak kasus, seseorang membeli baju baru bukan semata karena kebutuhan, melainkan karena dorongan lingkungan.
Ada kekhawatiran dianggap kurang pantas, tidak kompak dengan keluarga, atau tertinggal dari tren yang berkembang di masyarakat maupun media sosial.
Pengamat perilaku konsumen menilai keputusan membeli baju Lebaran berada di persimpangan antara nilai agama, budaya keluarga, dan tekanan sosial. Dalam konteks ini, konsumsi menjadi sarana untuk menunjukkan identitas sekaligus memenuhi ekspektasi sosial.
Dorongan konsumsi juga diperkuat oleh strategi industri fesyen dan platform digital. Menjelang Ramadan, berbagai brand rutin meluncurkan koleksi khusus dengan tema Lebaran.
Kampanye seperti “Ramadan Collection” atau “Eid Collection” membanjiri media sosial dan platform e-commerce. Paparan promosi yang intens ini mendorong masyarakat untuk ikut membeli, bahkan dalam kondisi tidak terlalu membutuhkan.
Fenomena fear of missing out (FOMO) turut memperkuat perilaku belanja impulsif, terutama di kalangan pengguna aktif media sosial.
Di balik euforia belanja, terdapat risiko finansial yang sering kali diabaikan. Tidak sedikit masyarakat yang menghabiskan sebagian besar THR untuk kebutuhan konsumtif, termasuk membeli pakaian baru.
Dalam beberapa kasus, dorongan konsumsi bahkan membuat sebagian orang mengambil langkah ekstrem seperti berutang atau menggadaikan barang.
Padahal, THR seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kondisi keuangan rumah tangga, bukan sekadar memenuhi keinginan jangka pendek.
Dalam ajaran Islam, tampil rapi dan baik saat Hari Raya memang dianjurkan. Namun, prinsip utama yang ditekankan adalah keseimbangan dan menghindari perilaku berlebihan.
Karena itu, inti persoalan bukan terletak pada baru atau tidaknya pakaian, melainkan pada niat, proporsi, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan.
Membeli baju baru tetap bisa menjadi bentuk kebahagiaan dan rasa syukur, selama dilakukan secara bijak dan tidak melampaui batas kemampuan.
Tradisi baju baru Lebaran pada akhirnya mencerminkan dinamika antara budaya, ekonomi, dan identitas sosial masyarakat modern.
Memahami hal ini menjadi penting agar masyarakat dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan konsumsi, tanpa kehilangan esensi utama dari Idulfitri.
Lebaran sejatinya adalah momentum untuk kembali pada nilai kesederhanaan, kebersamaan, dan saling memaafkan, bukan sekadar ajang untuk menunjukkan penampilan terbaik di hadapan orang lain. (sas)

