Teheran (Tutur.co.id) – Sejumlah warga Iran membentuk aksi “rantai manusia” di sekitar pembangkit listrik Ramin di Kota Ahvaz. Aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan infrastruktur vital negara di tengah meningkatnya ancaman serangan.
Aksi tersebut dipahami sebagai simbol keteguhan warga dalam menjaga fasilitas strategis, khususnya yang berkaitan dengan pasokan listrik nasional, agar tetap beroperasi meskipun berada di bawah bayang-bayang potensi pemboman.
Pembangkit listrik Ramin sendiri merupakan salah satu fasilitas energi terbesar di Iran dan memiliki peran krusial dalam menopang jaringan listrik nasional.
Rekaman aksi tersebut beredar melalui sejumlah kanal media. Namun hingga kini, belum terdapat verifikasi independen mengenai skala maupun waktu pasti pelaksanaan aksi tersebut.
Peristiwa ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, setelah Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya mengancam akan menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Sejumlah pengamat menilai, jika aksi tersebut benar terjadi, maka hal itu mencerminkan dimensi baru dalam konflik, di mana mobilisasi warga sipil digunakan sebagai bentuk perlawanan simbolik sekaligus pesan politik untuk menunjukkan ketahanan nasional di tengah tekanan militer eksternal.
Dari sisi efektivitas, aksi semacam ini dinilai lebih berfungsi sebagai instrumen psikologis dan komunikasi politik, ketimbang perlindungan fisik terhadap objek vital. Secara militer, keberadaan warga sipil tidak mampu menghentikan serangan presisi modern. Namun demikian, kehadiran mereka di sekitar fasilitas strategis dapat meningkatkan tekanan internasional serta risiko hukum bagi pihak penyerang.
Kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi kalkulasi keputusan militer lawan, sekaligus menambah kompleksitas dalam dinamika konflik yang terus berkembang di kawasan.

