Jakarta (tutur.co.id) — Indeks-indeks saham Wall Street kembali mengalami sesi perdagangan liar pada Selasa (3/3/2026) waktu setempat, di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip CNBC Internasional, gejolak sempat membawa pasar terjun tajam sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan, setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kepanikan investor.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 403,51 poin atau 0,83% ke level 48.501,27. S&P 500 terkoreksi 0,94% menjadi 6.816,63, sementara Nasdaq Composite ambles 1,02% ke 22.516,69.
Padahal, pada titik terendahnya, Dow sempat anjlok lebih dari 1.200 poin atau sekitar 2,6%. S&P 500 dan Nasdaq masing-masing sempat merosot sekitar 2,5% dan 2,7%, mencerminkan volatilitas tinggi akibat eskalasi geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Ancaman Selat Hormuz
Kekhawatiran pasar memuncak setelah Komandan Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak global. Iran juga mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintas.
Menanggapi hal itu, Trump menyatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker jika diperlukan demi memastikan arus energi dunia tetap berjalan. Pernyataan tersebut membantu meredakan tekanan pasar menjelang akhir sesi.
Harga minyak mentah jenis Brent Crude sempat melonjak lebih dari 9% sebelum akhirnya ditutup naik sekitar 2%, setelah sehari sebelumnya sudah melesat 6%. Minyak mentah WTI mencatat pola serupa. Lonjakan energi memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) karena kekhawatiran tekanan inflasi kembali meningkat, meski penguatannya kemudian menyusut seiring stabilisasi harga minyak.
Hari Keempat Konflik
Memasuki hari keempat, konflik menunjukkan potensi perluasan. Kedutaan Besar AS di Riyadh dilaporkan terkena serangan drone, sementara Departemen Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel dari Bahrain, Irak, dan Yordania. Kelompok Hizbullah yang didukung Teheran juga melancarkan serangan ke Tel Aviv.
Di pasar saham, hampir seluruh sektor dalam S&P 500 berakhir di zona merah, kecuali sektor keuangan. Sektor material dan industri mencatat pelemahan terdalam karena investor khawatir kenaikan harga energi dan biaya pinjaman akan menekan pertumbuhan ekonomi.
Saham teknologi besar kembali tertekan, termasuk Nvidia yang sebelumnya sempat memimpin rebound. Sementara itu, saham Blackstone turun 2% setelah laporan arus keluar dana kredit swasta sebesar US$1,7 miliar pada kuartal I.
Di tengah gejolak, emas yang biasanya menjadi aset lindung nilai justru ikut terkoreksi setelah reli pada hari sebelumnya. Indeks Volatilitas CBOE (VIX), indikator ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi sejak November.
Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, pasar global kini menanti perkembangan konflik AS–Iran, khususnya terkait nasib Selat Hormuz dan dampaknya terhadap harga energi, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

