Istanbul (Tutur.co.id) – Kemenangan Aston Villa dengan skor 3-0 atas SC Freiburg pada final UEFA Europa League (UEL) di Tupras Stadium, Istanbul, Kamis (20/5/2026) pagi WIB, menjadi momen bersejarah bagi klub asal Birmingham tersebut.
Hasil itu mengakhiri penantian panjang Aston Villa untuk kembali meraih trofi Eropa setelah terakhir kali menjuarai Piala Champions, yang kini bernama Liga Champions, pada 1982. Selama 44 tahun, The Lions harus menunggu untuk kembali merasakan kejayaan di kompetisi antarklub Eropa.
Keberhasilan ini terasa semakin spesial karena disaksikan langsung sekitar 11 ribu pendukung Aston Villa yang hadir di Istanbul. Di antara ribuan suporter tersebut, terdapat Pangeran William yang sejak lama dikenal sebagai penggemar klub yang bermarkas di Villa Park itu.
Pangeran William hadir langsung untuk memberikan dukungan kepada tim asuhan Unai Emery yang tampil dominan sepanjang pertandingan final.
Kesuksesan Aston Villa di Istanbul tidak lepas dari peran besar Unai Emery. Pelatih asal Spanyol itu kembali membuktikan reputasinya sebagai salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Liga Europa.
Final musim ini menjadi partai puncak Liga Europa keenam yang dijalani Emery sepanjang karier kepelatihannya. Dari enam kesempatan tersebut, ia berhasil mengukuhkan dominasinya dengan meraih lima gelar juara.
Pada laga final, Aston Villa tampil lebih efektif dibanding Freiburg. The Villans mencatatkan 16 tembakan dengan delapan di antaranya tepat sasaran, sementara Freiburg hanya mampu melepaskan enam percobaan dan tiga mengarah ke gawang.
Efektivitas lini serang Aston Villa membuat kiper Freiburg Noah Atobolu harus memungut bola dari gawangnya sebanyak tiga kali. Penampilan tersebut kembali memperlihatkan karakter tim racikan Emery yang dikenal disiplin dan matang dalam pertandingan Eropa.
Tambahan trofi ini semakin mengukuhkan Emery sebagai pelatih tersukses di kompetisi Liga Europa. Sebelumnya, ia meraih tiga gelar bersama Sevilla pada musim 2013/2014, 2014/2015, dan 2015/2016, serta satu gelar bersama Villarreal pada musim 2020/2021.
Catatan tersebut membuat Emery melampaui sejumlah pelatih besar Eropa. Pelatih legendaris Italia Giovanni Trapattoni tercatat memiliki tiga gelar Liga Europa, sedangkan Jose Mourinho, Diego Simeone, Juande Ramos, Luis Molowny, dan Rafa Benitez masing-masing mengoleksi dua trofi.
Keberhasilan ini juga menjadi bukti perkembangan Aston Villa di bawah kepemimpinan Emery dalam tiga musim terakhir. Setelah sempat gagal di semifinal UEFA Conference League 2024 dan mengalami musim sulit pada 2025, Aston Villa akhirnya mampu kembali bersaing di level tertinggi Eropa.
“Dia (Emery) melakukan pendekatan yang spesial kepada setiap pemain agar mempunyai kepercayaan diri dalam setiap permainan. Sekali kamu mendapatkan penampilan terbaik, dia akan memberikanmu seisi dunia,” ujar gelandang Aston Villa Youri Tielemans mengenai pendekatan Emery kepada para pemain.
Emery menegaskan kesuksesan tersebut diraih melalui proses yang panjang dan pendekatan serius sepanjang kompetisi berlangsung.
“Kamu bisa memenangkan trofi ini karena kami begitu serius menatap kompetisi dan berproses,” ungkap Emery.
Meski sukses di Liga Europa, Emery menegaskan Aston Villa masih memiliki target besar lainnya, termasuk bersaing di Liga Inggris dan Liga Champions.
“Kami perlu lagi untuk mencoba bersaing untuk trofi, terutama di Eropa, ini adalah kesempatan yang sangat bagus,” ungkap mantan pelatih Arsenal ini.
“Tapi tentu saja, Liga Premier adalah sesuatu yang fantastis, bagaimana kami tampil selama empat tahun, berada di tujuh besar, lima besar, sekarang kami berada di urutan keempat lagi melawan tim terbaik di dunia,” imbuhnya.
Saat ini Aston Villa tengah menikmati keberhasilan yang telah lama dinantikan para pendukung mereka. Klub juga dijadwalkan menggelar parade juara di kota Birmingham pada Kamis malam waktu setempat.
Di balik euforia kemenangan tersebut, Emery masih menghadapi pekerjaan besar untuk menjaga konsistensi tim. Aston Villa harus mempertahankan sejumlah pemain kunci seperti Morgan Rogers, Emiliano Martinez, Amadou Onana, dan Ollie Watkins yang mulai menarik perhatian klub-klub besar Eropa.

