Washington DC (Tutur.co.id) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran tanpa menunggu pembukaan kembali Selat Hormuz.
Laporan The Wall Street Journal yang terbit pada Senin (31/3/2026) menyebutkan bahwa Trump telah menyampaikan kepada para pembantunya kesiapan untuk menghentikan konflik, meskipun jalur pelayaran strategis tersebut masih belum sepenuhnya terbuka.
Keputusan tersebut, menurut laporan itu, didasarkan pada pertimbangan bahwa upaya memaksa pembukaan Selat Hormuz justru berpotensi memperpanjang konflik melampaui target awal yang diperkirakan berlangsung selama empat hingga enam pekan.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur paling vital dalam perdagangan energi global, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut. Sejak eskalasi konflik pada akhir Februari 2026, Iran dilaporkan membatasi akses selat itu bagi kapal-kapal yang dianggap terkait dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Di sisi lain, kapal dari negara-negara yang dinilai “bersahabat” masih diizinkan melintas, meski harus melalui koordinasi tertentu dengan otoritas Iran.
Sejumlah pengamat yang dikutip dalam laporan tersebut menilai bahwa langkah untuk mengakhiri operasi tanpa memastikan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat dipersepsikan sebagai perubahan sikap dari Washington. Sebelumnya, Trump beberapa kali menegaskan akan mengambil langkah tegas jika jalur tersebut tidak kembali dibuka.

