Teheran (Tutur.co.id) – Serangan militer gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran menyisakan aksi saling balas serangan hingga hari ketiga ini. Namun ada catatan menarik dari aksi saling balas serangan itu. Iran tampaknya sedikit di atas angin dan berpotensi ‘memenangkannya’.
Alasannya karena biaya yang dikeluarkan dalam aksi saling serang tak sebanding. Meski Iran mendapat pukulan telak dalam jumlah korban jiwa, namun secara itungan biaya, Iran jauh lebih irit. Hal itu diungkapkan analis dan dosen King’s College London, Rob Geist Pinfold.
Menurut Rob Geist kuncinya ada pada stok senjata yang digunakan dalam aksi saling balas serangan itu. Iran punya stok drone murah berlimpah. Sedangkan negara-negara Teluk tentu akan boncos dengan seringnya melepas rudal pencegat.
“Drone Shahed sangat murah dan mudah diproduksi. Membutuhkan biaya yang jauh lebih mahal untuk mencegatnya. Pada dasarnya drone tersebut adalah drone bunuh diri,” kata Geist Pinfold kepada Al Jazeera.
Dari perspektif negara-negara Teluk termasuk AS dan Israel, pertanyaan strategis utamanya adalah, apa yang terjadi ketika persediaan rudal anti-pesawat yang harganya puluhan ribu hingga jutaan dollar itu mulai menipis.
“Mereka tidak akan punya pilihan selain melakukan gencatan senjata, atau beralih dari bentuk pertahanan pasif ke bentuk pertahanan yang lebih aktif,” tegasnya.
Iran memang dalam beberapa tahun terakhir memproduksi drone besar-besaran termasuk drone Shahed yang dikenal murah meriah. Sebagai gambaran, sepanjang 2024 saja, Iran memproduksi 10 ribu unit untuk jenis Shahed-136 saja.
Menurut beberapa analis pertahanan, produksi drone Shahed bisa mencapai sekitar 1.000–2.000 unit per bulan pada akhir 2024. Dan kapasitas itu semakin diperbanyak sepanjang tahun 2025. Dengan kata lain, stok Iran tak terbatas untuk senjata murah meriah ini.

