Jakarta (tutur.co.id) — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak yang lebih serius. Setelah serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran, Teheran membalas dengan menutup Selat Hormuz—jalur vital yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap hari.
Langkah ini bukan sekadar simbolis. Bagi pasar global, penutupan Selat Hormuz adalah sinyal risiko sistemik yang bisa mengguncang harga energi, logam mulia, hingga nilai tukar mata uang utama.
Market Analyst Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai reaksi pasar hampir tak terhindarkan. Harga minyak diperkirakan melonjak tajam saat pembukaan perdagangan, diikuti kenaikan emas sebagai aset lindung nilai.
“Pasar minyak hampir pasti akan dibuka melonjak. Emas juga demikian,” ujarnya.
Lonjakan harga energi akan menjadi tekanan besar bagi negara-negara pengimpor minyak. Jika gangguan distribusi berlangsung lama, harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel. Dampaknya akan langsung terasa pada inflasi global—mulai dari harga bahan bakar hingga biaya logistik.
Zona euro termasuk yang paling rentan. Ketergantungan pada impor energi membuat kawasan ini berisiko menghadapi tekanan tambahan pada pertumbuhan dan inflasi. Pasangan EUR/USD berpotensi dibuka melemah, meski pelemahannya diperkirakan terbatas karena dolar AS masih dalam tren bearish secara teknikal.
Di tengah ketidakpastian, emas kembali menjadi tujuan utama investor
Kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi biasanya memperkuat daya tarik emas. Dalam situasi konflik berkepanjangan, permintaan safe haven cenderung meningkat. Namun, arah lanjutan tetap sangat bergantung pada dinamika geopolitik beberapa hari ke depan—apakah eskalasi berlanjut atau justru mereda melalui jalur diplomasi.
Meski sentimen geopolitik diprediksi mendominasi, pasar tetap mencermati agenda data ekonomi pekan ini. Rilis ISM Manufacturing PMI AS, inflasi zona euro, hingga laporan tenaga kerja AS (Non-Farm Payrolls) akan menjadi indikator penting arah kebijakan moneter, terutama dari Federal Reserve.
Namun untuk saat ini, fokus utama investor bukanlah data, melainkan stabilitas kawasan. Selama ketegangan belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas di minyak, emas, dan valuta asing kemungkinan tetap tinggi.
Pasar bersiap menghadapi pekan yang penuh ketidakpastian—di mana setiap perkembangan dari Timur Tengah dapat langsung mengubah arah pergerakan global.

