Beijing (tutur.co.id) – Saat negara-negara lain tengah berusaha bertahan dari dampak Perang Iran, Tiongkok hingga saat ini masih terlihat ‘santai’. Ekonomi Tiongkok justru mengalami percepatan di kuartal pertama tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi 5%.
Dari data bulan Januari hingga Maret yang baru saja dirilis pemerintah Tiongkok, angka pertumbuhan ekonomi 5% pada kuartal I 2026 itu memang di luar prediksi. Angka itu juga lebih tinggi dari pencapaian Tiongkok di kuartal Oktober-Desember yang hanya 4,5%.
Pencapaian di kuartal pertama ini menjadi bukti Tiongkok masih mampu mengatasi dampak jangka pendek dari perang Iran, yang kini telah memasuki minggu ketujuh. Tak dipungkiri, perang tersebut mendorong harga energi dunia lebih tinggi, memperburuk inflasi, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi global.
Berapa Lama Tiongkok Bertahan?
Namun para ekonom dunia tetap memprediksikan cepat atau lambat Tiongkok juga akan goyang. Dengan kata lain, untuk jangka panjang, beberapa sektor termasuk permintaan pasar global untuk barang ekspor China tentu akan terpukul juga.
Hal itu pula yang membuat Dana Moneter Internasional (IMF) pekan ini menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok menjadi 4,4% untuk tahun 2026. Sedangkan Tiongkok sendiri menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% hingga 5% untuk tahun ini, yang merupakan pertumbuhan paling lambat sejak 1991.
“Tiongkok kemungkinan dapat mengatasi gangguan jangka pendek, tetapi perang yang berkepanjangan dan harga energi yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama kemungkinan akan mulai menggerogoti pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini,” kata Lynn Song, kepala ekonom Tiongkok Raya di Bank Belanda ING, Kamis 16 April 2026.
Tiongkok bukan tanpa masalah. Kemerosotan sektor properti selama bertahun-tahun di Tiongkok telah menyeret kepercayaan konsumen dan investor. Namun negara Xin Jinping ini berhasil mencapai target pertumbuhan sekitar 5% tahun lalu. Hal ini karena didukung ekspor yang kuat yang mendorong surplus perdagangannya ke rekor hampir $1,2 triliun meskipun ada tarif yang lebih tinggi dari Presiden AS Donald Trump.
“Namun kurangnya penyelesaian cepat terhadap perang Iran kemungkinan akan menghambat pertumbuhan global, yang akan berdampak negatif pada kemampuan ekonomi negara lain untuk menyerap ekspor Tiongkok,” kata Eswar Prasad, seorang profesor ekonomi dan kebijakan perdagangan di Universitas Cornell.
Pada hari Selasa lalu, Tiongkok melaporkan ekspornya tumbuh hanya 2,5% pada bulan Maret dibandingkan tahun lalu, melambat secara signifikan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Dan para ekonom memprediksikan risiko Perang Iran baru akan sangat terasa di Q2-Q4 2026.
“Pada saat semua negara berusaha melindungi perusahaan, rumah tangga, dan ekonomi mereka dari dampak perang Iran, selera terhadap impor Tiongkok jelas menyusut,” tambah Prasad.
Para ekonom memprediksikan Tiongkok kemungkinan masih dapat mencapai target pertumbuhan ekonominya sebesar 4,5% hingga 5% tahun ini melalui stimulus kebijakan, tetapi ada kekhawatiran lain.
Prasad mengatakan, peningkatan investasi sektor publik akan menstabilkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, tetapi kecuali permintaan rumah tangga menguat secara signifikan, hal itu dapat memperparah tekanan deflasi yang mendasari dan meningkatkan ketergantungan ekonomi pada ekspor di masa mendatang.

