Jakarta (Tutur.co.id) – Pakar telematika Roy Suryo membeberkan analisis mengenai keberhasilan operasi gabungan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menurut Roy Suryo, analisis ini dibuat dengan mengedepankan teori-teori ilmiah dan prakteknya yang sudah terjadi sampai sekarang. Ia juga mencoba menggambar perang ke depannya.
Menurut Roy Suryo, peristiwa tewasnya Ali Khamenei dalam sebuah serangan brutal di kediamannya ini terjadi dengan latar belakang konflik Iran vs Israel-AS sejak 2024–2025. Ketegangan memuncak karena program nuklir Iran dimana terjadi pengayaan uranium hingga lebih dari 60 persen atau mendekati level senjata nuklir yang dinilai Israel mencapai “nuclear breakout capability”.
“Kedua, ada faktor proksi regional, dimana Iran mendukung Hizbollah di Lebanon, Hamas di Gaza, milisi Syiah di Irak, Houthi di Yaman yang kesemuanya membentuk Axis of Resistance melawan Israel yang 180 derajat bertolak belakang berbeda,” lanjut Roy Suryo.
Sedangkan yang ketiga, tambah Roy Suryo, sebenarnya sudah terjadi perang selama bertahun-tahun antara Iran dengan Israel. Dimana Israel melakukan sabotase fasilitas nuklir Iran dan sebaliknya Iran melakukan serangan drone dan cyber attack.
“Keempat, tahapan operasi intelijen dengan melakukan pengumpulan data intelijen terlebih dahulu. Operasi ini melibatkan Central Intelligence Agency (CIA) dan Mossad, dimana CIA memberikan geolocation intelijen mengenai pertemuan elite Iran di kompleks tersebut. Sumber data itu berasal dari SIGINT (Signals intelligence) berupa pengumpulan data intelijen dengan intersepsi sinyal, baik sinyal komunikasi antara orang (komunikasi intelijen/ COMINT) maupun dari sinyal elektronik yang secara tidak langsung digunakan dalam komunikasi (kecerdasan elektronik/ELINT) didukung satelit pengintai, drone pengintai stealth agen Mossad di Iran,” bebernya.
Kelima, metode yang digunakan adalah gabungan dari pattern-of-life analysis, thermal satellite imaging, mobile phone triangulation dan drone surveillance. Semua bertujuan memastikan sosok Ali Khamenei benar-benar berada di lokasi sebelum strike. Lalu keenam, target utama adalah bunker Pemimpin Iran bawah tanah yang memiliki command center militer untuk ruang komunikasi strategis.
“Ketujuh, teknologi militer yang Digunakan oleh Amerika Serikat adalah Pesawat F‑35 Lightning II, B‑2 Spirit stealth bomber dan F/A‑18 Super Hornet dengan senjata Tomahawk dan Delillah cruise missile, JDAM smart bomb dan Bunker buster GBU-28 dan GBU-57. Sistem satelit pengintai dengan Cyber warfare dan Electronic warfare. Sementara Israel menggunakan teknologi unggulan Iron Dome, David’s Sling dan Arrow-3 anti ballistic missile. Pesawat utama yang digunakan F-35I Adir dan F-15I. Sedangkan Iran memanfaatkan kekuatan rudal balistik Shahab-3, Sejjil, Emad, Drone Sahed-136 dan Mohajer-6. Didamping itu juga tetap menggunakan pertahanan udara Bavar-373 dan S-300 Rusia,” terang Roy Suryo.
Dan yang dedelapan, lanjut Roy Suryo, dampak politik di Iran setelah wafatnya Ali Khamenei adalah Iran membentuk Dewan Kepemimpinan sementara dengan anggotanya Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung dan Para Ulama senior. Mereka bertugas memilih pemimpin tertinggi baru dengan Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai kandidat kuat.
“Dalam skala konflik, perang ini tidak hanya Iran vs Israel, karena tampak Iran didukung Rusia dan Milisi Hezbollah, sedangkan Israel didukung Amerika Serikat dan beberapa negara Teluk meski banyak juga yang tidak mau terlibat langsung. Beberapa skenario yang diprediksi analis militer adalah “Regime change” di Iran dengan tujuan melemahkan IRGC. Jika Hezbollah masuk penuh maka bisa memicu Perang Lebanon, Perang Teluk dan bahkan Perang nuklir taktis. Dampak Globalnya berkonsekuensi langsung Harga minyak melonjak karena Jalur perdagangan Teluk terganggu dan Resiko perang dunia meningkat,” pungkasnya.

