Teheran (Tutur.co.id) – Misteri siapa yang akan menggantikan Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran terjawab sudah. Seperti yang telah ramai diberitakan, tongkat estafet jatuh pada putra kedua Ayatollah, Mojtaba Khamenei. Mojtaba Khamenei dipilih secara aklamasi oleh Dewan Ahli yang beranggotakan 88 orang.
Lalu seperti apa sosok Mojtaba Khamenei? Nama Mojtaba memang jarang terdengar. Namun pemilik nama lengkap Sayyid Mojtaba Hosseini Khamenei punya pengaruh besar terutama di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia dikenal dekat dengan beberapa petinggi IRGC dan beberapa kesatuan militer lainnya. Maklum saja, pasalnya Mojtaba memang pernah menjadi tentara aktif di IRGC dan sangat dekat dengan Milisi Basij, paramiliter binaan IRGC.
Lewat pernyataan dari anggota Dewan Ahli membenarkan penunjukkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ke-3 setelah ayahnya Ayatollah Ali Khamenei dan Rahullah Khameini, pendiri Republik Islam Iran.
“Sesi hari ini luar biasa, Ayatollah Seyyed Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei diangkat dan diperkenalkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ke-3,” lewat pernyataan resmi Dewan Ahli.
Setelah pengangkatan Mojtaba ini, Islamic Revolutionary Guard Corps akan segera mendapatkan instruksi dari sang pemimpin baru terutama guna melanjutkan Operasi Janji Sejati 4 melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Mojtaba lahir pada tanggal 8 September 1969 di Masyhad sebagai anak kedua dari Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh. Lima saudara kandungnya adalah Mostafa, kakak laki-lakinya, Masoud dan Meysam, adik laki-lakinya, serta Boshra dan Hoda, adik perempuannya. Kakek dari pihak ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama dan cendekiawan Syiah yang sederhana tetapi sangat dihormati.
Khamenei memiliki garis keturunan hingga Husain bin Ali, putra Ali, Imam Syiah pertama, dan cucu dari pihak ibu Nabi Muhammad, oleh karena itu nama tengah Khamenei adalah Hosseini (dieja Husayni dalam bahasa Arab; artinya “keturunan Husain”).
Masa kecilnya bertepatan dengan munculnya sang ayah (Ayatollah Ali Khamenei) sebagai tokoh revolusioner terkemuka melawan monarki Iran Shah Mohammad Reza Pahlavi. vSelama waktu itu, ia menghabiskan tujuh tahun di kota Sardasht dan Mahabad di barat laut Iran, tempat ia menerima pendidikan awalnya. Setelah lulus dari sekolah menengah Alavi di Teheran, ia mempelajari teologi Islam. Guru-gurunya termasuk ayahnya sendiri dan Mahmoud Hashemi Shahroudi.
Karirnya di pentas politik memang tak kentara. Mojtaba lebih sering berada di belakang layar (operasi senyap) termasuk saat mendukung Mahmoud Ahmadinejad yang saat itu menjadi Gubernur Teheran dalam pemilihan presiden Iran pada 2025. Dan Ahmadinejad saat itu terpilih setelah mengalahkan Rafsanjani. Tentu saja setelah Ayatollah juga mendukung Ahmadinejad setelah sukses dibujuk Mojtaba.
Begitu juga dengan pemilihan presiden Iran pada 2009. Lagi-lagi Mojtaba menjadi aktor di belakang layar kemenangan Ahmadinejad untuk periode kedua sebagai Presiden Iran. Dari sini dapat dilihat bagaimana pamor Mojtaba meski ia jarang tampil di permukaan.
Namun Mojtaba bukan tanpa kritikan. Para pengkritik menilai Mojtaba tidak memiliki kualifikasi keagamaan yang cukup untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran. Gelar Hojjatoleslam yang dipegangnya berada satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah, posisi yang dipegang oleh mendiang ayahnya dan mendiang Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran.

