Washington (Tutur.co.id) – Di sela kunjungan kerja ke Amerika Serikat, Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan 12 perusahaan investasi terbesar dunia, Jumat (21/2) waktu setempat. Menariknya, pemerintah memastikan, pembahasan tidak lagi sebatas wacana.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa sejumlah kerja sama sebenarnya sudah disepakati dan tinggal menunggu pengumuman resmi.
“Sebetulnya bukan hanya diskusi. Jadi semuanya itu memang kita belum announce tapi memang ini semua sudah merupakan partnership yang nantinya pada saat waktunya akan kita sebutkan,” ujar Pandu.
Pernyataan itu mengisyaratkan bahwa Indonesia tak lagi sekadar menawarkan peluang, melainkan sudah masuk tahap eksekusi kemitraan strategis.
Menurut Pandu, minat investor global mengerucut pada sektor renewable energy, infrastruktur, hingga energi transisi. Infrastruktur disebut sebagai fokus utama, terutama yang menopang transformasi ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Selain itu, sektor kewirausahaan berbasis teknologi juga ikut dilirik. Hal ini menandakan pergeseran minat investor dari sektor konvensional ke sektor bernilai tambah dan berbasis inovasi.
Yang paling mencuri perhatian, salah satu investor besar yang terlibat merupakan investor utama OpenAI. Mereka bahkan mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi di berbagai sektor strategis nasional.
“Mereka bilang bagaimana bisa penggunaan OpenAI juga kepada sektor-sektor kita untuk meningkatkan efisiensi,” kata Pandu.
Masuknya pemain yang terafiliasi dengan OpenAI menjadi sinyal bahwa transformasi digital Indonesia mulai dilirik serius dalam peta investasi global.
Sementara itu, CEO Danantara, Rosan P Roeslani, menekankan bahwa kehadiran langsung para petinggi perusahaan menunjukkan keseriusan minat terhadap Indonesia. Pertemuan ini, kata dia, bukan sekadar forum perkenalan.
“Ya, jadi ini sebenarnya bukan hanya diskusi dengan para pengusaha global, tapi sudah pembicaraan lebih lanjut kan. Bapak Presiden juga sangat apresiasi senang karena yang datang ini benar-benar CEO, level CEO atau Presiden-nya langsung,” ujar Rosan.
Kehadiran para CEO secara langsung memperlihatkan bahwa Indonesia kini dipandang sebagai pasar dan mitra strategis, bukan lagi sekadar emerging market yang menunggu kepastian.
Pertemuan di Washington DC mempertegas posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang makin diperhitungkan. Namun, publik tentu menunggu satu hal krusial: realisasi konkret dari kemitraan yang disebut sudah disepakati.
Jika pengumuman resmi dan implementasinya berjalan sesuai rencana, maka kunjungan ini bisa menjadi titik balik penting bagi percepatan investasi, transformasi energi, dan digitalisasi ekonomi nasional. Jika tidak, ia hanya akan menjadi catatan optimisme yang kembali tertunda.

